alexametrics

Saatnya Bunga Kredit Turun

Kebijakan Moneter Semakin Longgar
21 September 2019, 17:50:47 WIB

JawaPos.com – Pelonggaran loan to value (LTV) untuk kredit pembelian rumah kedua dan uang muka kendaraan bermotor diharapkan menggairahkan sektor properti dan otomotif yang tengah lesu. Tahun lalu Bank Indonesia (BI) juga telah melonggarkan LTV pembelian rumah pertama hingga 100 persen sehingga memungkinkan uang muka KPR nol persen.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung mengakui, upaya pelonggaran LTV tahun lalu belum cukup untuk mendongkrak penyaluran KPR. Perbankan juga belum merespons dengan melonggarkan uang muka.

”Per Agustus 2019, pertumbuhan kredit properti 8,59 persen, turun dari 12,12 persen tahun lalu (yoy). LTV ini cukup membantu mendorong KPR,” ujarnya di gedung BI, Jumat (20/9).

Menurut Juda, pihak yang sebenarnya paling menggeliatkan kredit properti adalah investor. Selain itu, BI telah menurunkan suku bunga acuan hingga tiga kali. Namun, hingga saat ini bunga kredit perbankan ditengarai masih tinggi. Terkait dengan hal tersebut, pihaknya juga optimistis suku bunga kredit turun. Namun, transmisi kebijakan moneter membutuhkan waktu. ”Biasanya perlahan akan menyesuaikan,” tuturnya.

Juda menekankan, dampak pelonggaran LTV baru akan terasa tahun depan karena baru berlaku pada 2 Desember. Pihaknya berharap pelonggaran LTV bersama bauran kebijakan lain bisa mendorong pertumbuhan kredit di kisaran batas tengah 10–12 persen.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menambahkan, penurunan LTV bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal itu baik dilakukan, terlebih saat tekanan ekonomi global kian berat dan berdampak perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Secara umum, langkah BI yang memadukan berbagai kebijakan untuk mendorong pertumbuhan, baik melalui penurunan LTV maupun suku bungan acuan, dinilai sudah strategis. ”Itu amat dibutuhkan oleh perbankan dan pelaku sektor riil,” kata ekonom BNI Ryan Kiryanto.

Hanya, menurut dia, bauran kebijakan tersebut belum cukup. Kebijakan-kebijakan BI itu perlu diimbangi dengan kebijakan fiskal, ekonomi, dan investasi yang juga harus akomodatif atau longgar. Ryan pun berharap pertumbuhan kredit berkisar 11–13 persen tahun ini dan outlook pertumbuhan ekonomi 5,1 persen.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menuturkan, kebijakan BI untuk menurunkan suku bunga acuan terbilang tepat. ”Tidak hanya terkait stabilitas di pasar keuangan, tetapi bunga yang rendah diperlukan untuk menstimulus ekonomi, khususnya sektor UMKM,” ujarnya kemarin.

Rasio LTV/FTV Baru
Uang Muka KPR/KPA Rumah Kedua
Rumah Tapak | LTV Saat Ini (%) | LTV Baru (%)
21–70 | 15 | 10
>70..| 20 | 15

Rusun/Apartemen | LTV Saat Ini (%) | LTV Baru (%)
<21 | 15 | 10
21–70 | 15 | 10
>70 | 20 | 15

Uang Muka Kendaraan Bermotor
Tipe Kendaraan | LTV Saat Ini (%) | LTV Baru (%)
Roda dua | 20 | 15
Roda tiga atau lebih (nonproduktif) | 20 |15
Roda tiga atau lebih (produktif) | 20 | 10

Sumber: BI, 2019

Editor : Edy Pramana

Reporter : (ken/rin/dee/c11/oki)



Close Ads