alexametrics

Masuki Tahun Politik, Investasi Sektor Komoditas Masih Menggiurkan

20 Januari 2019, 16:30:35 WIB

JawaPos.com – Sektor komoditas Indonesia tahun ini masih berpotensi mengalami pergerakan yang positif meskipun dihadapi tantangan berat dimana mendapat berbagai macam tekanan baik dalam maupun luar negeri.

Analis PT Binaartha Sekuritas Nafan Aji mengatakan, jika di lihat secara makro ekonomi, sektor komoditas akan terimbas dari keputusan kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) dimana bank sentral AS masih dilema dalam menaikan suku bunganya sehingga menyebabkan mata uang dolar AS mengalami penurunan.

Selain itu, perang dagang antara AS dan Tiongkok yang masih berlangsung juga turut memengaruhi investasi disektor komoditas. Pasalnya, kinerja perusahaan yang berkaitan dengan tujuan ekspor maupun pasokan impor  bergantung pada keputusan dagang tersebut.

“Ini bisa memengaruhi harga komoditas pertambangan seperti minyak, batu bara alumunium, dan nikel,” ujarnya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Minggu (20/1).

Meskipun demikian, bagi emiten Indonesia yang berorientasi ekspor masih dapat memiliki performa yang baik khususnya perusahaan penghasil batu bara kualitas tinggi. Hal tersebut akan berdampak positif dari segi permintaan dan akan mendongkrak kinerja keuangan. 

“Dari dala negeri emiten melakukan ekspansi bisnis, khususnya emiten batu bara . Emiten yang menerapkan ekspor dan berorientasi ekspor baru bara dalam mengembangkan kualitas tinggi Kinerja emiten kedeoannya positif meningkatnya permenungan baru bara berkualitas tinggi,” kata dia.

Sementara, dari tren sektor komoditas Cruel Palm Oil (CPO) juga diprediksi akan bergerak positif seoring dengan harga CPO di Malaysia tang secara teknikal mengalami over Sold. Sehingga hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh emiten CPO untuk merebut pasar. 

“Kita bisa juga lakukan lobi meningkatkan akses pasar. Meskipun Mereka cenderung tidak mau membuka akses pasar, Cenderung diskriminasi. Tapi bisa dimanfaatkan oleh kita mungkin permintaan CPO dari India,” jelasnya.

Nafan Aji menegaskan, secara teknikal, semua sektor komoditas baik pertanian, pertambangan, aneka industri, pembiayaan, dan manufaktur masih berpotensi mengalami tren yang positif.

Hal tersebut tercermin dari beberapa harga saham sektor komoditas yang menggeliat sejak awal 2019, diantaranya PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sahamnya terus naik yang saat ini berada di harga Rp 1.485 per lembar saham dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 47,5 triliun.

Hal serupa juga dalami oleh emiten lainnya seperti PT Medco Energy International Tbk (MEDC) di harga saat ini Rp 835 per lembar saham dengan kapitalisasi pasar Rp 14,89 triliun. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di harga Rp 850 dengan kapitalisasi pasar Rp 20,43 triliun. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) saat ini diharga Rp 3.700 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 36,76 triliun.

Selain itu, harga saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) saat ini terus naik di harga 1.820 dengan kapitalisasi pasar Rp 4,92 triliun. PT Indo Tambangraya megah Tbk (IMTG) diharga Rp 23.100 dengan kapitalisasi pasar  Rp 26,10 triliun. Serta PT Salim Invomas Pratama Tbk di harga Rp 494 dengan kapitalisasi pasar Rp 7,81 triliun.

“Sektor komoditas bergantung dari kondisi kurs gang dipengaruhi kondisi ekonomi global yang berdampak pada pasokan suplai dan demand,” pungkasnya.

Editor : Saugi Riyandi

Reporter : Romys Binekasri



Close Ads
Masuki Tahun Politik, Investasi Sektor Komoditas Masih Menggiurkan