alexametrics

Keperkasaan Dolar Tak Tahan Lama, Ini Indikatornya

15 Februari 2019, 10:58:26 WIB

JawaPos.com – Nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah akibat hantaman Dolar yang kembali perkasa. Penguatan tersebut lantaran investor kembali cemas pada isu perdagangan antara AS – Tiongkok. 

Global Head of Currency Strategy & Market Research Forex Time Jameel Ahmad mengatakan, hasil negosiasi dagang yang positif akan berdampak negatif pada Dolar.

“Permintaan terhadap Dolar belum tentu terus meningkat di jangka pendek. Trader tidak boleh menganggap USD akan terus bergerak naik tanpa ada peluang untuk turun,” ujarnya seperti diberitakan Jumat (15/2).

Menurutnya, meskipun penutupan pemerintahan AS mungkin berhasil dihindari, pasar juga harus memperhatikan negosiasi penting pekan ini di Beijing mengenai ketegangan dagang AS-Tiongkok. 

“Perdamaian 90 hari kedua negara ini hampir berakhir. Apabila Presiden Trump memberlakukan kenaikan tarif barang Tiongkok pada 2 Maret, Dolar dapat semakin menguat,” ucapnya.

Jameel mengaku, walaupun kedua negara ini menghadapi berbagai hambatan politik dan ekonomi, pasar berharap bahwa kesepakatan dapat segera tercapai. “Ini akan dianggap berdampak negatif pada Dolar,” kata dia.

Apabila kesepakatan berhasil disetujui di Washington (untuk mendanai pemerintah AS) dan di Beijing (untuk menghindari kenaikan tarif), maka ini akan dianggap sebagai pemicu kembalinya sentimen risk-on. Dengan kata lain, ini akan menjadi faktor penggerak penting terhadap kenaikan pasar saham global, permintaan mata uang pasar berkembang, dan komoditas seperti minyak.

“Sebaliknya, ini adalah risiko yang dapat menghentikan reli Dolar yang telah terjadi sejak bulan Februari,” imbuhnya.

Jameel menambahkan, meskipun terus menguat terhadap mata uang G10, Dolar AS mencatat hasil yang bervariasi terhadap mata uang pasar berkembang di periode yang sama. Sebagian mata uang pasar berkembang menguat terhadap Dolar, bangkit dari posisi oversold tahun lalu, dan didukung oleh berbagai faktor seperti fundamental ekonomi domestik yang sehat, arus masuk modal asing, dan kenaikan harga komoditas. 

“Walau begitu, mata uang pasar berkembang masih terpapar pada berbagai peristiwa global yang dapat merusak sentimen risiko global, seperti ketegangan dagang AS-Tiongkok dan perlambatan pertumbuhan global. Keadaan ekonomi Tiongkok yang melambat juga menjadi gangguan besar bagi pertumbuhan global, dan perlambatan ini terasa di banyak ekonomi berkembang melalui jalur dagang dan Forex,” tuturnya.

Pada dasarnya, kata Jameel, mata uang pasar berkembang ditentukan terutama oleh tema Dolar AS, dan apakah Dolar akan mampu terus meningkat setelah menguat satu persen di 2019.

 

Editor : Teguh Jiwa Brata

Reporter : Romys Binekasri

Keperkasaan Dolar Tak Tahan Lama, Ini Indikatornya