JawaPos Radar

Inflasi Indonesia Terendah, Pemodal Jangan Terlambat Masuk Pasar Saham

11/09/2018, 16:18 WIB | Editor: Mohamad Nur Asikin
Inflasi Indonesia Terendah, Pemodal Jangan Terlambat Masuk Pasar Saham
Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia (DOK.DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)
Share this

JawaPos.com - Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan cukup berat menyusul sentimen negatif akibat gejolak perekonmian global. Para investor merespons pelemahan Rupiah dengan melakukan aksi jual besar-besaran. Namun, saat ini kondisi pasar saham Indonesia telah berangsur membaik.

Senior Vice President Intermediary Business Schroders Adrian Maulana menyampaikan, aksi jual yang dialami pasar saham dan obligasi berdasarkan kepanikan efek dari Turki, Argentina, Brazil yang merembet ke negara berkembang lain, termasuk Indonesia.

Namun, Adrian menyebut, diantara negara-negara tersebut angka inflasi Indonesia terendah dibandingkan lainnya, apalagi Inflasi Turki sebesar 18 persen dan Argentina mencapai 31 persen.

“Dimana negara-negara tersebut (termasuk kita) mengalami twin deficit, yaitu current account deficit (CAD) & fiscal deficit. Bedanya, negara-negara tersebut mengalami inflasi tinggi, sedangkan inflasi Indonesia sangat rendah, yakni 3,2 persen,” ujarnya Selasa (11/9).

Menurutnya, selama ekonomi Amerika Serikat (AS) sedang membaik, suku bunga akan terus meningkat, mata uang USD terus menguat, harga minyak masih tinggi, negara-negara yang mengalami defisit transkasi berjalannya akan rentan terkena dampaknya.

Sehingga, faktor yang dapat membantu meredakan kepanikan pasar diantaranya, suku bunga The Fed naik secara gradual atau tidak agresif, risiko perang dagang tidak memburuk, dan harga minyak cenderung menurun.

Tercatat, hingga 10 September 2018, valuasi obligasi dan saham sudah lebih menarik. Tinggal butuh kebijakan pemerintah yang lebih struktural dan konkrik meredam volatilitas.

Yield obligasi pemerintah 10 tahun di 8,6 persen, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah minus 8,29 persen.

Sekedar pengingat, dua kali kita berhasil lewati major crisis (2013 dan 2015), yield obligasi saat itu nyaris di 9 persen dan kemudian membaik.

Walau saat ini sudah menarik, investor asing masih belum agresif masuk ke pasar obligasi Indonesia karena volatilitas USD terhadap Rupiah yang terefleksikan dalam NDF (Non Delivarable Forward) dan premi efek SWAP masih cukup mahal bagi investor asing melakukan hedging dalam Rupiah.

“Tapi kalau sentimen negatif sudah turun, volatilitas dolar rupiah mereda, maka spread antara hedging cost & nominal yiels jadi positif, asing diperkirakan akan kembali melirik kembali pasar SUN Indonesia," katanya.

Apalagi, katanya, spread US Treasury & SUN lebih 5 persen. "Investor lokal jangan terlambat masuk ke pasar obligasi (langsung maupun reksadana) karena yield yg sudah menarik dan investor lokal tidak punya liability dalam USD,” tandasnya.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up