alexametrics

DPR: Pembentukan Holding Pembiayaan Ultra Mikro Jangan Timbulkan PHK

9 Februari 2021, 17:17:22 WIB

JawaPos.com – Anggota Komisi VI DPR RI, Deddy Yevri Sitorus, menyambut baik rencana pembentukan Holding Pembiayaan Ultra Mikro yang digulirkan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurutnya, pembentukan holding ini cukup strategis. Pasalnya, holding ini nantinya diharapkan dapat mengembalikan BRI kepada tujuan kelahirannya sebagai sumber pembiayaan kegiatan usaha produktif rakyat kecil.

“Jumlah rakyat yang menggeluti usaha ultra mikro (UMi) sangat besar, mencapai sekitar 55 juta dan merupakan kelompok terdepan yang menderita akibat hantaman pandemi Covid-19,” kata Deddy, melalui pernyataan tertulis kepada media, di Jakarta, Selasa (9/2).

Padahal, lanjut Deddy, usaha ultra mikro (UMi) ini menyangkut hajat hidup hampir 100 juta rakyat Indonesia di lapisan paling bawah. “Oleh karena itulah, pembentukan Holding Pembiayaan Ultra Mikro menjadi sangat strategis, dalam rangka pembiayaan pelaku usaha ultra mikro secara sistematis dan berkelanjutan,” ujar Deddy.

Politikus PDI Perjuangan itu mengungkapkan, memang ketiga BUMN terkait yaitu BRI, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dan PT Pegadaian memiliki ‘nature‘ bisnis yang berbeda satu sama lain. PT PNM selama ini fokus dan menjadi ujung tombak bagi pembiayaan dan pendampingan usaha ultra mikro di lapangan dan memiliki nasabah mencapai 8 juta orang.

Sementara PT Pegadaian melayani masyarakat bawah dan kelas menengah dengan jumlah nasabah mencapai hampir 17 juta orang. Lebih dari 60 persen dananya digunakan untuk membiayai usaha produktif.

Deddy berharap, melalui pembentukan holding ini diharapkan BRI dapat menjadi lokomotif bagi pengembangan pelaku usaha UMi agar dapat naik kelas dan bankable. Selama ini transaksi bisnis PT Pegadaian dan PT PNM belum menggunakan fasilitas perbankan dan umumnya bersifat tunai. Sehingga kurang mendorong meningkatnya literasi keuangan dan akses terhadap layanan keuangan perbankan.

Selain itu, pembentukan holding akan memperluas jangkauan pelayanan dan efisiensi bisnis dari PT Pegadaian dan PT PNM karena dapat diintegrasikan dengan BRI, baik dalam hal fasilitas operasional maupun pembiayaan dan sumber daya manusia. Dengan adanya holding maka biaya operasional Pegadaian dan PNM dipastikan berkurang signifikan karena biaya-biaya kantor, aset, integrasi, dan pengembangan IT bisa satu pintu.

Dengan demikian, akan terbentuk sebuah ekosistem pembiayaan dan pelayanan terhadap nasabah pelaku usaha UMi oleh Pegadaian dan PMN menjadi lebih efisien, luas dan berkesinambungan. “Saat ini menurut data Kementerian Keuangan jumlah pelaku usaha UMi yang belum terlayani lembaga keuangan formal masih sangat tinggi, mencapai 65 persen dari jumlah yang ada. Dengan adanya holding ini, diharapkan pada 2024 jumlah pelaku usaha UMi yang dapat mengakses fasilitas pembiayaan mencapai 29 juta pelaku usaha,” ujar Deddy.

Oleh karena itu, Deddy berharap agar proses pembentukan holding tersebut dapat berlangsung dengan baik. Jangan sampai ada guncangan atau PHK, sosialisasi, dan mitigasi masalah dalam rangka integrasi bisnis harus berjalan dengan baik.

“Saat ini memang terkesan masih ada ketidakpuasan di internal Pegadaian dan PNM. Hal-hal seperti ini harus diidentifikasi akar masalahnya dan dicarikan solusinya, sebab pembentukan holding ini adalah strategi yang akan memberikan keuntungan dalam jangka panjang,” kata Deddy melanjutkan.

Saat ini, kata Deddy, rencana pembentukan holding itu juga telah didukung Komite Privatisasi di bawah Kemenko Perekonomian dan Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK). Dengan demikian tidak ada alasan lagi untuk penolakan.

Internal Pegadaian dan PNM harus memahami bahwa pembentukan holding ini akan meningkatkan valuasi entitas melalui peningkatan profitabilitas dari ketiga BUMN yang terlibat. Selain itu, pembentukan holding akan melahirkan integrasi bisnis yang meningkatkan sinergitas, efisiensi dan perbaikan tata kelola sehingga biaya kredit (cost of fund) dapat diturunkan dan sumber pembiayaan alternatif jangka panjang juga dapat diperluas.

‘Holding ini juga diharapkan akan mengurangi beban terhadap APBN, meningkatkan akses rakyat terhadap permodalan, meningkatkan literasi perbankan dan memberikan dorongan bagi ekspansi dan efisiensi bisnis dari PT Pegadaian dan PT PNM. “Bila para pelaku usaha UMi bisa terlayani dengan baik oleh lembaga pembiayaan dan ekosistem usaha ultra mikro sudah berkembang, maka pemerintah dapat berkonsentrasi di sektor hilir yaitu memperkuat daya beli masyarakat terutama petani, nelayan dan buruh,” ujar Deddy.

Dengan adanya holding ini, Deddy berharap BRI kembali kepada khittahnya sebagai sumber pendanaan bagi rakyat kecil. Selama ini menurut Deddy, porsi pendanaan/kredit yang disalurkan oleh BRI kepada masyarakat kecil masih sangat rendah dibanding yang disalurkan kepada usaha menengah atas atau korporasi.

Dengan ini, BRI dapat meningkatkan secara signifikan porsi pembiayaan pelaku usaha Umi sesuai target yang dicanangkan oleh pemerintah. Jika target yang dibebankan kepada holding ini tidak tercapai maka bisa dievaluasi pada tahun 2024.

“Oleh karena itu BRI harus bersungguh-sungguh untuk memastikan proses holding berjalan dengan baik dan tujuan dapat tercapai,” pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Gunawan Wibisono

Saksikan video menarik berikut ini: