JawaPos Radar

Rupiah Pulih Menjauhi 14.900, Risiko Perang Dagang Wajib Diwaspadai

06/09/2018, 12:34 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Rupiah Pulih Menjauhi 14.900, Risiko Perang Dagang Wajib Diwaspadai
Rupiah, Rand, dan Rubel Rusia hanyalah sebagian dari banyak mata uang yang terperosok di lingkungan trading negatif. (Dok. Radar Sukabumi)
Share this

JawaPos.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) perlahan merangkak naik meninggalkan 14.900. Mengutip Bloomberg jelang sesi I kali ini, Rupiah naik ke posisi 14.890. Sementara yahoofinance mencatat Rupiah menguat di 14.894.

Analis Forextime Lukman Otunuga mengatakan, ketegangan dagang berkepanjangan di ekonomi global dan munculnya risiko baru bahwa investor menyerang mata uang negara yang mengalami defisit transaksi berjalan besar menjadi faktor utama dalam memburuknya sentimen global. 

“Sentimen pasar saat ini tetap menjauhi risiko,” ujarnya Kamis (6/9).

Menurutnya, suasana negatif begitu terasa di tengah prospek tarif AS terhadap USD 200 miliar barang Tiongkok, dan ketidakpastian seputar diskusi NAFTA menciptakan sentimen global yang sangat berhati-hati. 

“Topik populer di kalangan investor saat ini adalah aksi jual besar-besaran terhadap berbagai mata uang pasar berkembang,” tuturnya.

Lukman menyebut, pekan perdagangan ini sungguh menyakitkan bagi sebagian besar mata uang pasar berkembang. Pasar mulai membandingkan tekanan yang dialami mata uang pasar berkembang saat ini dengan krisis keuangan Asia di tahun 1997. 

Ketegangan dagang dan penguatan Dolar secara umum juga berperan aktif terhadap lemahnya sentimen di pasar berkembang, tapi indikasi bahwa investor menggunakan isu di Turki untuk menyerang pasar yang memiliki defisit transaksi berjalan yang tinggi juga tidak dapat diabaikan. 

“Rupiah kembali turun ke level terendah 20 tahun terhadap Dolar hari ini, sementara Rupee India mencetak rekor level terendah baru. Rand Afrika Selatan juga melemah karena berita hari ini bahwa negara ini memasuki resesi,” imbuhnya.

Lukman menyebut, pergerakan Rand dewasa ini mulai menyerupai pergerakan Lira menjelang krisis, dan tantangan ekonomi yang dihadapi Afrika Selatan pun serupa dengan Turki.

“Pelemahan tajam Lira Turki dan Peso Argentina menyebar seperti virus ke negara-negara berkembang lainnya. Rupiah, Rand, dan Rubel Rusia hanyalah sebagian dari banyak mata uang yang terperosok di lingkungan trading negatif,” ucapnya.

Krisis keuangan di Turki dan Argentina merusak sentimen dan ketegangan dagang membuat pasar menghindari risiko, sehingga prospek jangka pendek mata uang pasar berkembang tetap negatif.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up