JawaPos Radar

Ini Biang Keladi Rupiah Sepekan Lalu Anjlok 0,24 Persen

05/08/2018, 17:30 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Ini Biang Keladi Rupiah Sepekan Lalu Anjlok 0,24 Persen
Rupiah anjlok selama sepekan (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Meski pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama global lainnya namun, tampaknya tidak banyak berimbas pada pergerakan Rupiah yang masih kembali melanjutkan pelemahannya.

Adapun nilai tukar Rupiah terdepresiasi 0,24 persen dari sebelumnya naik 0,43 persen. Di pekan kemarin, laju Rupiah sempat melemah ke level 14.515 atau lebih baik dari sebelumnya di level 14.560. Sementara level tertinggi yang dicapai di angka 14.390 atau di atas sebelumnya di angka 14.380. Laju Rupiah di pekan kemarin sempat bergerak di bawah target support 14.427 dan di atas resisten 14.402.

Analis AAEI Reza Priyambada mengatakan, laju USD yang belum sepenuhnya menguat dan cenderung mendatar atau sideways membuat laju Rupiah di awal pekan masih berkesempatan untuk kembali melanjutkan kenaikannya.

Di sisi lain, sejumlah sentimen dari dirilisnya angka inflasi dan berbagai upaya yang terus disampaikan Pemerintah untuk menopang Rupiah untuk tidak melemah lebih dalam, cukup mampu mengimbangi sentimen jelang akan diadakannya sejumlah pertemuan Bank Sentral global di masing-masing negaranya. Dimulai dari BoJ, The Fed, lalu BoE dan beberapa lainnya.

“Pergerakan Rupiah sedikit mengalami pelemahan seiring laju USD yang berbalik menguat. Adanya rilis BoJ yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga rendahnya membuat laju JPY melemah terhadap USD. Sementara itu, dari dalam negeri adanya penilaian dan langkah koordinasi dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) turut memberikan sentimen positif pada Rupiah,” ujarnya Minggu (5/7).

Reza menjelaskan, pergerakan Rupiah masih cenderung melemah meski rilis inflasi menunjukan angka 0,28 persen dari bulan lalu dan 3,18 persen dari tahun lalu di bawah perkiraan sebelumnya di level 0,48 – 0,64 persen secara per bulan.

Sementara pelemahan Rupiah, lanjutnya, mengantisipasi pertemuan The Fed untuk menentukan naik tidaknya suku bunganya. Selain itu, pelemahan CNY seiring dengan antisipasi pertemuan antara Tiongkok dan AS untuk kembali membahas negosiasi tarif dagang diantara keduanya turut berimbas pada pelemahan laju Rupiah.

“Belum adanya kabar kepastian kesepakatan dalam pertemuan antara AS dan Tiongkok dalam membahas permasalahan tarif dagang diantara keduanya membuat nilai mata uang USD kembali menguat. Belum tercapainya kesepakatan seiring dengan sikap Presiden Trump yang berusaha meningkatkan tekanan terhadap China untuk konsesi perdagangan dengan mengusulkan tarif 25 persen lebih tinggi atas impor Cina senilai USD200 miliar,” tuturnya.

Di sisi lain, kata Reza, adanya pernyataan dari Menko Perekonomian Darmin Nasution, dimana Pemerintah mengakui fundamental ekonomi memiliki kelemahan, yakni masih bergantung dengan asing. Sehingga ketika global mengalami tekanan, hal itu akan mudah mempengaruhi ekonomi Tanah Air turut membuat laju Rupiah kembali terhempas ke zona merah.

“Pergerakan Rupiah di akhir pekan belum menunjukan adanya perbaikan dan melemah. Sejumlah sentimen positif mewarnai pergerakan Rupiah namun, tampaknya tidak banyak direspon karena pelaku pasar lebih memilih memegang USD seiring masih adanya sentimen perang dagang AS-Tiongkok. Padahal laju USD sedikit melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia dengan adanya perkiraan pertumbuhan data ketenagakerjaan AS yang cenderung melambat," pungkasnya.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up