JawaPos Radar

Ini Jurus Sri Mulyani Cegah Rupiah Anjlok ke Level Rp 15.000 per USD

04/09/2018, 12:34 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Ini Jurus Sri Mulyani Cegah Rupiah Anjlok ke Level Rp 15.000 per USD
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Hendra Eka/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku saat ini pemerintah tengah menyoroti sentimen global yang saat ini mulai terasa gejolaknya ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Pemerintah akan berupaya dalam mengantisipasi tekanan global agar perekonomian Indonesia tetap terjaga.

“Kami melihat pergerakan global, kami terus waspadai karena dinamika yang berasal dari sentimen Argentina ini tinggi sekali dan kadang dikombinasikan dengan kondisi di negara emerging yang lain. Karena situasi di sana belum selesai, makanya kita antisipasi bahwa tekanan ini masih akan berlangsung,” ujarnya seperti diberitakan, Selasa (4/9).

Sri Mulyani mengatakan, penengah bersama pihak terkait sepeti Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan bersinergi dengan saling berbagi informasi terkini dalam menentukan langkah dan keputusan yang bijak.

Ini Jurus Sri Mulyani Cegah Rupiah Anjlok ke Level Rp 15.000 per USD
Infografis Perbandingan ekonomi Indonesia pada 1998, 2008, 2018 (Rofiah Darajat/JawaPos.com)

“Koordinasi dari sisi informasi, langkah demi stabilitas akan terus di-share sehingga kami terus lakukan peneysuaian kalau memang akan dilakukan. Karena dari sisi kondisi apakah dari sisi pasar surat berharga, portfolio, nilai tukar, dan kemudian dinamika sektor riil ekspor dan impor,” tuturnya.

Sejauh ini, kata Sri Mulyani, pemerintah masih tetap mengurangi sentimen yang berasal dari neraca pembayaran. Seperti diketahui, sebagai salah satu sumber sentimen dari perekonomian Indonesia adalah kondisi transaksi berjalan dan transaksi perdagangan. Langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam jangka sangat pendek adalah melakukan pengendalian dari sisi kebutuhan devisa.

“Makanya, kami bersama Mendag dan Menperin melihat komposisi dari komoditas yang selama ini diimpor, namun nilai tambah ke perekonomian tidak banyak,” imbuhnya.

Pihaknya berharap, di tengah gempuran sentimen global yang mulai mengikis kurs rupiah, dapat dimanfaatkan oleh industri dalam negeri yang bisa menyubstitusi impor. Sementara dari sisi kebutuhan devisa yang dilakukan BUMN seperti Pertamina dan PLN akan melihat kebutuhan yang dapat ditunda.

“Kalau pun kebutuhan yang tidak bisa ditunda, bagaimana suplai dolar dilakukan tanpa mengubah sentimen market. Itu dilakukan dengan intervensi khusus oleh pemerintah karena market pada saat ini dianggap sensitif dengan pergerakan seberapa pun kecilnya. Ini perlu kita lakukan secara koordinatif,” tandasnya.

Sri Mulyani menambahkan, pemerintah akan terus bekerja sama melalui forum KSSK dengan meneliti dan memonitor secara detail tingkah laku pelaku pasar tekait transaksi yang legitimate demi memenuhi keperluan industrinya.

“Kalau tidak legitimate kami akan lakukan tindakan tegas agar tidak menimbulkan spekulasi atau sentimen negatif,” tutupnya.

(ce1/mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up