alexametrics

Sebelum jadi Sumber Masalah, Kenali Risiko Pinjol Sejak Dini

3 Mei 2019, 05:25:43 WIB

JawaPos.com – Indah, salah seorang debitur membagikan kisahnya soal pengalaman pinjaman online (pinjol). Ia sempat terjerat pinjaman online beberapa bulan lalu.

Saat itu, warga Palm Banjarbaru ini bekerja di salah satu ritel modern di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Karena merasa punya penghasilan mandiri, ia tergiur ingin membeli smartphone keluaran anyar.

Pinjol jadi pilihan Indah saat itu, berawal dari ajakan temannya yang sudah terlebih dahulu menggunakan Pinjol. “Saya pinjam saat itu Rp 3 juta tanpa jaminan, hanya KTP saja. Angsurannya saya pilih empat bulan,” ingatnya dikutip dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Jumat (3/5).

Namanya pinjaman mudah tanpa syarat berlibet, bunga yang harus di bayar Indah rupanya besar yakni mencapai 30 persen. “Yang pertama itu saya berhasil melunasinya. Karena merasa mudah, akhirnya tergiur lagi saat ada penawaran, dan sekarang bisa lebih besar angka pinjamannya” katanya.

Di pinjaman kedua lah malapetaka bagi Indah. Meminjam dari salah satu pinjol sebesar Rp 5 juta. Ibu rumah tangga ini berniat ingin membeli perabotan rumah. Dia mulai kesulitan karena tagihannya tidak pilih waktu.

“Jadi, tagihan itu masuk pada pertengahan bulan. Saat saya masih kerja masih tidak masalah, setelah resign saya mulai panik,” curhatnya.

Kepanikan Indah lantaran penagih hutang terus menerornya. Baik melalui puluhan pesan singkat hingga ratusan panggilan dengan berbagai macam nomer.

Saat itu Indah bingung. Lantaran ia tidak bisa melunasi pinjamannya. Dikarenakan bunga yang besar sedangkan ia meminjam dengan angka yang lebih besar.

“Tidak hanya telepon pribadi saya. Entah bagaimana dia (penagih hutang) melacaknya, nomer saudara dan orang tua saya juga dihubungi. Saya makin tertekan,” katanya.

Tepat satu bulan yang lalu. Indah akhirnya bisa menyudahi teror tersebut. Dengan bantuan rekannya, ia dipinjamkan dana untuk melunasi pinjaman di pinjol.

“Alhamdulillah rekan saya ngerti, karena suaminya pernah terjerat pinjol juga sama seperti saya. Saat dia ada rezeki berlebih, dia pinjamkan ke saya untuk mengakhiri putaran utang di pinjol,” syukur Indah.

Menurut Indah, cara sang penagih utang kadang tidak sopan. Selain menelepon secara berulang. Saat diangkat, kerap ceritanya, kata-kata keras dan terkesan kasar mendarat di kupingnya.

“Saya ingat betul satu kali dibilangin pencuri uang oleh penagih itu. Di situ saya kaget sekali, sebegitunya,” katanya.

Tak jauh berbeda dari Indah, Putri (nama samaran), warga Sungai Besar Banjarbaru juga bernasib demikian. Beruntung, Putri lepas dari teriakan penagih hutang lebih cepat dari Indah.

“Saya telat bayar karena saat itu ada keperluan lain. Ternyata satu hari saja telat, sudah banyak sekali yang menagih,” kisah mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Banjarbaru ini.

Memang besaran yang dipinjam putri di pinjol tidak besar, yakni hanya Rp 600 ribu. Akan tetapi tenggat pembayaran hanya dua pekan.

“Yang pembayaran pertama dan kedua saya lancar saja. Nah, yang ketiga mulai tidak nyaman,” katanya.

Di pinjaman ketiga, ia telat dua hari melunasi. Hanya karena dua hari itu, nomer orang tua Putri di Tabalong terus berdering.

“Saya kaget dibilangin bapak bahwa ada pria menelepon dengan nada keras seraya menagih hutang,” katanya.

Semenjak dari situ, Putri langsung melunasi hutang tersebut. “Setelah konsultasi dengan teman yang juga pernah pakai pinjol, memang kebanyakan seperti itu, malah ada yang bunganya naik jika telat,” ceritanya.

Kejadian orang tuanya ditelepon penagih utang membuat Putri malu tak kepalang. Pasalnya niatnya meminjam dana di pinjol untuk membeli kebutuhan gaya hidup.

“Jelas malu, karena saya tidak pernah bilang melakukan pinjaman sama orang tua. Jadi orang tua kaget. Setelah itu saya berhenti,” ujarnya.

Memang dari pengakuan Indah dan Putri, pinjol membuat orang jadi teperdaya. Pasalnya, hanya dengan KTP, uang dengan nominal dari Rp 600 ribu hingga jutaan rupiah bisa seketika masuk ke rekening, bahkan tanpa syarat.

Namun, jika tidak siap dan matang untuk melunasi pinjaman dan bunga yang cukup besar, sangat besar kemungkinan akan mendapat teror penagihan pinjaman secara beruntut.

Dari data yang dirilis Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi atau Satgas Waspada Investasi, ada banyak sekali entitas yang melakukan kegiatan usaha peer to peer (P2P) lending yang tidak terdaftar atau memiliki izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Jumlah fintech lending ilegal yang beredar masih banyak. Kami mohon masyarakat tetap waspada dan berhati-hati sebelum memilih perusahaan layanan pinjaman online. Gunakan yang sudah terdaftar di OJK,” kata Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing, berdasarkan rilis OJK, Minggu (28/4) tadi.

Ditambahkannya, sampai dengan saat ini, jumlah Fintech Peer-To-Peer Lending atau pinjaman online tidak berizin yang ditemukan Satgas Waspada Investasi pada ]2018 sebanyak 404 entitas. Sedangkan pada 2019 ada 543 entitas, sehingga secara total yang telah ditangani sebanyak 947 entitas.

Dia menyebut total kegiatan usaha yang diduga merupakan investasi ilegal dan dihentikan Satgas Waspada Investasi selama 2019 sejumlah 120 entitas.

“Penawaran investasi ilegal juga masih banyak di masyarakat, dan ini sangat berbahaya bagi ekonomi masyarakat. Masyarakat diminta selalu berhati-hati dalam menginvestasikan dananya. Jangan sampai tergiur dengan iming-iming keuntungan yang tinggi tanpa melihat risiko yang akan diterima,” ucapnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : jpg