JawaPos Radar

Pendapatan Pertamina Turun USD 1,5 Miliar Hingga September 2017

02/11/2017, 21:28 WIB | Editor: Mochamad Nur
Pendapatan Pertamina Turun USD 1,5 Miliar Hingga September 2017
Iustrasi SPBU milik PT Pertamina (Dok.JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - PT Pertamina (Persero) hingga September 2017 mencatat penurunan pendapatan sebesar USD 1,5 miliar atau setara Rp 19 triliun (kurs Rp 13.500). Pertamina hanya mendapat pemasukkan sebesar USD 31,3 miliar. Jumlah itu lebih kecil dibanding tahun sebelumnya di periode yang sama sebesar USD 32,8 miliar.

Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik menjelaskan penurunan pendapatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 persen membuat perseroan harus mengeluarkan biaya yang lebih besar khususnya dalam subsidi.

Di sisi lain, naiknya harga minyak tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual BBM di Indonesia. Hal itu tentu menjadi beban dan mengurangi pendapatan perseroan.

"Tentu harga naik ini tentunya kita berharap ada penyesuaian harga per tiga bulan. Kalau sesuai formula, pendapatan kita USD 32,8 miliar. Karena nggak disesuaikan maka kita hanya dapat USD 31,38 miliar," ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Kamis (2/11).

Dia menambahkan, ongkos produksi Pertamina juga tercatat mengalami kenaikan sebesar 30 persen dari sebelumnya Rp 21,5 triliun menjadi Rp 27,4 triliun. Meski demikian, hal itu mampu diantisipasi Pertamina dengan melakukan efisiensi.

"Jadi, dari sisi efisiensi kita semakin membaik sebenarnya dengan adanya program program yang kita terapkan. Delapan prioritas yang kita tekankan adalah restrukturisasi biaya. Dan kita program restrukturisasi biaya dibarengi investasi jadi biaya kita akan semakin lebih baik," tuturnya.

Ditempat yang sama, Direktur Keuangan Pertamina, Arif Budiman optimis hingga akhir tahun nanti BUMN Migas itu bisa mengejar target laba sebesar USD 2,15 miliar.

"Kita optimis masih diatas 2 miliar dolar. Harga minyak saja sudah naik 10 persen. Mungkin kita masih bisa naikin lagi pada akhir tahun USD 2,15 miliar," tandasnya. 

(cr4/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up