JawaPos Radar

Rupiah Tembus Rp 14.700 per Dolar AS, Ini Respons BI

01/09/2018, 11:05 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Rupiah Tembus Rp 14.700 per Dolar AS, Ini Respons BI
Bank Indonesia (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah kian terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kurs referensi Jakarta Inter Bank Spot Dollar (JISDOR) mencatat rupiah sudah berada di level Rp 14.711 per USD.

Pelemahan itu lantas menjadi kekhawatiran akan potensi pelemahan yang akan terus berlanjut hingga menembus Rp 15 ribu per USD.

Merespon hal itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan komitmen bank sentral  untuk mengawal secara ketat stabilitas nilai tukar Rupiah. Untuk itu, serangkaian langkah stabilisasi telah ditempuh Bank Indonesia.

"Pertama, meningkatkan volume intervensi di pasar valas. Kedua, melakukan pembelian SBN di pasar sekunder. Ketiga, membuka lelang FX Swap, dengan target lelang pada Jumat (31/8) USD 400 juta, dan keempat, senantiasa membuka windows swap hedging," ujarnya seperti dikutip dari laman resmi BI, Sabtu (1/9).

Selain itu, lanjut Perry, Bank Indonesia juga senantiasa meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan bahwa stabilitas nilai tukar dan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

Dirinya optimis bahwa kondisi perekonomian Indonesia tetap kuat dan berdaya tahan. Menurutnya, hal itu ditunjukkan dari beberapa indikator, seperti pertumbuhan ekonomi yang tumbuh cukup baik, dan inflasi yang rendah serta terjaga.

Berdasarkan pemantauan harga sampai dengan minggu V Agustus 2018, IHK diperkirakan -0,06 persen (mtm), atau secara year to date mengalami inflasi sebesar 2,12 persen (ytd), dan secara tahunan 3,19 persen (yoy).

"Kondisi stabilitas sistem keuangan juga terjaga sebagaimana ditunjukkan oleh intermediasi yang kuat. Namun demikian, Bank Indonesia juga senantiasa mewaspadai berbagai risiko yang mungkin timbul di tengah ketidakpastian global sebagaimana yang terjadi pada Turki dan Argentina," tegasnya.

"Dengan dukungan kebijakan baik moneter, stabilitas sistem keuangan maupun fiskal yang berhati-hati (prudent), serta komitmen Pemerintah yang kuat khususnya dalam mengurangi defisit transaksi berjalan, Bank Indonesia meyakini ketahanan ekonomi Indonesia," tambah Perry.

Bank Indonesia memperkirakan hingga akhir tahun defisit transaksi berjalan dapat mengarah pada 2,5 persen dari PDB pada tahun 2018, dan 2 persen dari PDB pada tahun 2019, khususnya didukung oleh beberapa kebijakan Pemerintah antara lain melalui kebijakan B20 yang diperkirakan dapat menurunkan defisit hingga USD 2,2 miliar, penguatan sektor pariwisata, penundaan beberapa proyek Pemerintah, dan peningkatan ekspor sekitar USD 9 sampai dengan 10 miliar pada tahun depan.

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up