Penguatan Dolar Masih Berlanjut di Negara Berkembang, Ini Penyebabnya

01/09/2018, 15:16 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah (Dok. JawaPos.com)
Share this image

Jawapos.com - Tumbangnya ekonomi negara-negara berkembang di benua Eropa dan Amerika membuat pasar saham ketar-ketir. Akibatnya, terjadi capital outflow di negara emerjing market.

Begitupun dengan Indonesia. Dolar AS kembali menunjukkan keperkasaannya terhadap Rupiah dan mata uang lain pada pekan terakhir Agustus. 

Apa penyebab perekonomian Turki dan Argentina menjadi rentan krisis? Dan apakah krisis itu akan menular ke negara emerjing market lain seperti Indonesia? Editor Market CNBC Patti Domm mengatakan ‘kerugian’ pasar emerjing market terhadap penguatan dolar belum akan berakhir. 

Hal ini seiring dengan kenaikan suku bunga acuan The Fed ditambah lagi adanya perang dagang yang melukai harga komoditas. Pasalnya, komoditas adalah sumber pendapatan penting di pasar negara berkembang.

"(Penguatan dolar) Ini belum berakhir dengan cara apa pun," kata Aliansi Nasional Andrew Brenner dilansirJawapos.com dari CNBC, di Jakarta, Sabtu (1/8).

Andrew menambahkan makin lama the Fed mereda, semakin mengetatkan maka semakin banyak kesulitan yang akan dihadapi pasar negara berkembang. Bicara soal tekanan ini, Andrew mengatakan Argentina dan Turki memiliki beberapa keadaan unik yang tidak dimiliki oleh pasar negara berkembang lainnya.

Kepala Ekonom Emerjing Market Capital Economics William Jackson menyebut ketergantungan Argentina dan Turki pada arus modal asing jauh lebih tinggi dibanding negara emerjing market lain.

"Mereka juga memiliki utang mata uang asing yang besar,” kata Jackson.

Tingkat inflasi Argentina saat ini lebih dari 30 persen, sementara Turki diperkirakan akan merilis data inflasi terbarunya minggu depan, yang menurut Jackson bisa menunjukkan kecepatan 20 persen.

Namun begitu, Turki menolak mengambil langkah-langkah strategis yang diperlukan, seperti menaikkan suku bunga Bank Sentral. Sedangkan Argentina telah berusaha mengembalikan kepercayaan pasar, meski sejauh ini kesulitan-kesulitannya tetap terjadi.

"Sebagian dari itu adalah bahwa kerentanan ekonomi mereka benar-benar besar. Mereka mengalami resesi setiap dua tahun selama enam tahun terakhir. Kesepakatan IMF adalah yang ke-23 sejak 1950-an. Mereka memiliki basis domestik yang cukup lemah, ketergantungan besar pada impor,” kata Jackson. 

Capital Economics mengatakan peso Argentina mungkin telah stabil untuk saat ini, dimana investor akan memelototi konferensi pers pemerintah pada hari Senin besok, yang diharapkan membahas rencana ekonominya. Masalah ekonomi Argentina memang tidak bagus, tetapi keadaan itu diperparah lagi sebab investor enggan untuk masuk ke pasar negara berkembang tahun ini.

"Kami berada di lingkungan di mana semua orang negatif pada emerjing market. Argentina tertangkap kaki salah pada saat yang buruk untuk EM," kata Win Tipis, ahli strategi mata uang senior di Brown Brothers Harriman.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi