JawaPos Radar

YLKI: 10-20 Tahun Lagi Indonesia Berpotensi Jadi Pengemis Batu Bara

31/07/2018, 15:17 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
YLKI: 10-20 Tahun Lagi Indonesia Berpotensi Jadi Pengemis Batu Bara
Ilustrasi tambang batu bara (Dok. JawaPos.Com)
Share this

JawaPos.com - Pemerintah berencana mencabut Domestic Market Obligation (DMO), kewajiban menjual batu bara ke dalam negeri dengan harga yang dipatok pemerintah, untuk mengikuti harga pasar. Kebijakan itu lantas menimbulkan polemik panjang.

Ketua Harian Yayasan Lembagai Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai kebijakan tersebut berpotensi membuat Indonesia mengimpor batu bara dari negara lain. Hal itu jelas berbanding terbalik dengan kondisi saat ini yang notabene merupakan negara pengekspor batu bara terbesar di dunia.

"Ingat pasokan cadangan Indonesia di dunia itu hanya 2 persen  dari cadangan batu bara dunia. Artinya sangat kecil dibanding cadangan yang dimiliki oleh Tiongkok dan negara-negara lain. Meski cadangan Indonesia kecil, tapi Indonesia adalah eksportir terbesar di dunia, gila enggak tuh," ujarnya dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta, Selasa (30/7).

"Sehingga dalam jangka waktu tertentu 10-20 tahun ke depan Indonesia ini akan menjadi pengemis batu bara di dunia. Kenapa? batu baranya habis," tambahnya.

Menurutnya, Indonesia berpotensi mengimpor dari negara-negara yang cadangan batu baranya cukup besar seperti Tiongkok maupun Amerika Serikat. Apalagi, negara-neagra tersebut disebutnya terus menyimpan cadangan batu baranya untuk di masa depan.

"Kalau jadi pengemis batu bara, kita mungkin bisa ngemis ke Tiongkok, Amerika, dan segala macam. Artinya, kita harus membeli harga pasar di tingkat dunia," tuturnya.

Oleh karena itu, Tulus berharap wacana penghapusan tarif DMO bisa dibatalkan. Dia berpendapat, potensi batu bara yang ada saat ini lebih baik dioptimalkan untuk kepentingan dalam negeri.

"Mumpung belum terjadi, pemerintah harus memberi prioritas batu bara untuk kepentingan nasional. Yaitu apa? PLN sebagai pengguna batu bara terbesar di dunia. Tiongkok yang cadangannya besar saja melakukan penimbunan-penimbunan sehingga ke depan dia  bisa menggunakan energi fosil yang terus menipis," tandasnya.

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up