alexametrics

India Jadi Negara Pengekspor Batubara Terbesar dari Kaltim

18 Maret 2019, 20:02:23 WIB

JawaPos.com – India diproyeksi menjadi pasar ekspor terbesar batu bara dari Kaltim. Pasalnya tahun ini konsumsi emas hitam Negeri Bollywood diperkirakan tumbuh 4,5 persen (year on year/yoy). Sementara produksi domestik mereka pertumbuhannya hanya 3,7 persen (yoy). Artinya, mereka akan mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhamad Nur mengatakan, di pasar perdagangan dunia, terdapat dua negara berkembang yang berperan sebagai importir terbesar batu bara Kaltim. Yaitu Tiongkok dan India. Meskipun Tiongkok merupakan importir terbesar, tetapi negara ini juga merupakan produsen dengan cadangan batu bara terbesar di dunia.

“Produksi batu bara Tiongkok pada 2017 tercatat sebesar 3,67 miliar metrik ton (mt), relatif besar dibandingkan Indonesia yang hanya sebesar 485 juta metrik ton,” ujarnya dikutip Kaltim Post (Jawa Pos Grup), Senin (18/3).

Dia menambahkan, peningkatan permintaan emas hitam di Tiongkok yang masih potensial disebabkan dampak dari pertumbuhan ekonomi. Terutama di sisi Industri. Pabrik-pabrik manufaktur di Tiongkok mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama. Ini dikarenakan batu bara adalah energi yang relatif murah, dibandingkan energi dalam bentuk liquid ataupun gas.

“Sedangkan potensi India, merupakan pasar batu bara yang terus berkembang,” ungkapnya.

Dengan pertumbuhan ekonomi India pada 2017 sebesar 6,7 persen (yoy) dan populasi sebesar 1,3 miliar penduduk, India memiliki ruang pemanfaatan batu bara yang cukup besar. Berdasarkan negara tujuan, ekspor batu bara Kaltim terbesar ke India dan Tiongkok, sebesar 28,48 persen dan 25,04 persen.

“Pertumbuhan volume ekspor komoditas andalan Kaltim mulai kembali menunjukkan tren positif sejak triwulan III 2017. Namun, ekspor batu bara ke Tiongkok memiliki titik peak dan through yang cukup tinggi, disebabkan sering berubah-ubahnya kebijakan impor pemerintah negara tersebut,” katanya.

Pada bulan-bulan tertentu, pemerintah Tiongkok menerapkan restriksi impor dengan memperketat pengurusan bea cukai di pelabuhan impor batu bara utama. Akibatnya, loading vessel menjadi lambat. Sehingga ekspor ke Tiongkok turun. Sedikit berbeda dengan tren ekspor batu bara ke India yang menunjukkan peningkatan sejak triwulan I 2017.

“Dalam laporan publikasinya, India Ministry of Power menyebutkan bahwa dalam 8 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan tahunan produksi listrik di India sebesar 5,69 persen,” jelas Nur.

Adapun pada Januari 2019, kapasitas terpasang tercatat sebesar 349 gigawatt (GW), lebih besar dibandingkan Indonesia sebesar 62,6 GW pada Desember 2018. Sementara, sumber energi utama India dari tenaga termal, batu bara termasuk di dalamnya sebesar 64,09 persen.

“Dengan ekonomi yang diperkirakan tumbuh sebesar 7,5 persen pada 2019, India masih menjadi pasar potensial untuk ekspor batu bara Kaltim,” katanya.

Konsumsi batu bara India pada 2018 diperkirakan 900 juta ton atau mengalami pertumbuhan rata-rata pada 2011-2018 sebesar 4,5 persen (yoy). Di sisi lain, produksi batu bara domestik India tahun 2018 diperkirakan sekitar 700 juta ton dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,7 persen (yoy). Impor batu bara India pada 2018 diperkirakan sebesar 200 juta ton atau tumbuh rata-rata sebesar 7,8 persen (yoy). Berdasarkan volumenya, impor emas hitam India sebagian besar berasal dari Indonesia dengan pangsa 47 persen, disusul oleh Australia sebesar 22 persen dan Afrika Selatan 18 persen.

“Batu bara asal Indonesia digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik. Sehingga batu bara yang dibutuhkan berkalori 4.000-5.000 kcal/kg,” katanya.

Saat ini, India masih belum mampu memenuhi kebutuhan domestiknya, disebabkan jaringan infrastruktur untuk distribusi batu bara yang belum mengakomodasi keperluan pembangkit listrik, atau industri lainnya. Sebagian besar cadangan batu bara terletak di bagian timur India dan berada di remote area.

Perbedaan mendasar transportasi di India dengan Indonesia, khususnya Kalimantan adalah media transportasi yang digunakan.

“Pengangkutan batu bara kita memanfaatkan aliran sungai sebagai media utama pengangkutan dari pit ke pelabuhan lautnya,” ujarnya.

Sedangkan, di India pengangkutan batu bara dari pit ke PLTU atau industri menggunakan kereta api. Saat ini, kondisi infrastruktur pengangkutan batu bara di India baik kereta, dan relnya kurang memadai sehingga mempersulit peningkatan produksi oleh perusahaan.

Pembangunan terkait infrastruktur dimaksud terus berjalan, tetapi pertumbuhan kebutuhan batu bara lebih cepat dibandingkan perkembangan pembangunan infrastruktur tersebut. Oleh sebab itu, India cukup bergantung pada batu bara impor. Pada 2019, kenaikan impornya diperkirakan sebesar 10 persen untuk menutupi kekurangan pasokan batu bara, dan peningkatan kebutuhan pembangkit listrik.

“Peningkatan impor batu bara India tersebut menjadi peluang bagi sektor pertambangan di Kaltim untuk meningkatkan volume penjualan ekspor ke negara tersebut,” pungkasnya.

Editor : Saugi Riyandi

Copy Editor :

India Jadi Negara Pengekspor Batubara Terbesar dari Kaltim