JawaPos Radar

Atasi defisit neraca perdagangan

Tekan Impor Migas, Pemerintah Harus Genjot Penggunaan Biodiesel

16/08/2018, 07:08 WIB | Editor: Mochamad Nur
Tekan Impor Migas, Pemerintah Harus Genjot Penggunaan Biodiesel
Ilustrasi petani kepala sawit tengah memanen hasil kebunnya (Dok.JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com- Pemerintah diminta menggenjot pencarian ladang minyak baru sehingga bisa meningkatkan produksi minyak mentah di dalam negeri. Tingginya impor migas menjadi penyumbang terbesar defisit neraca perdagangan Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD2,03 miliar sepanjang Juli 2018. Defisit neraca perdagangan tersebut berasal dari impor yang telah mencapai USD18,27 miliar serta ekspor yang baru mencapai UD16,24 miliar.

Anggota Komisi XI DPR RI Hendrawan Supratikno mengatakan, untuk mengatasi defisit perdagangan, pemerintah diharapkan meningkatkan produksi migas sendiri. "Salah satunya program peningkatan penggunaan biodiesel dijalankan sesuai rencana," ujar politisi PDI P ini di Jakarta, Rabu (15/8) kepada wartawan.

Dari sisi ekspor , ia menyarankan perlunya pemberian insentif untuk produk-produk dengan konten lokal yang besar. "Hilirisasi industri juga harus dilakukan secara serius agar produk-produk ekspor bernilai tambah tinggi," imbuhnya.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati di kesempatan berbeda menuturkan, peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi naiknya impor migas, seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan yang lebih tinggi.

Sejatinya, secara makro kinerja ekspor Indonesia, khususnya non migas mencatatkan pertumbuhan yang cukup bagus.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Juli 2018 mencapai USD104,24 miliar atau meningkat 11,35% dibanding periode yang sama tahun 2017. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai USD94,21 miliar atau meningkat 11,05%.

Pun jika hanya melihat impor non migas, masih dinilai sehat karena masih banyak berupa bahan baku penolong ataupun bahan modal yang mengindikasikan industri berjalan baik.

Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih menyebut naiknya impor bahan baku penolong menunjukkan kegiatan ekonomi atau kegiatan industri mungkin sudah membaik karena ada permintaan bahan kimia organik.

Menurutnya, jika ada impor bahan baku atau barang modal, kemungkinan akan ada peningkatan ekspor dalam waktu tiga bulan ke depan. “Kalau importir impor sekarang, itu biasanya untuk dua tiga bulan ke depan,” ujarnya.

Terkait tingginya impor migas, Lana berharap pemerintah segera merealisasikan program biofuel demi memangkas impor migas. Juga, merealisasikan pembangunan kilang.“Lalu, dengan infrastruktur yang sudah mau selesai seperti MRT dan LRT, itu mungkin akan mengurangi impor minyak. Kan sebentar lagi mau jadi,” tuturnya.

(nas/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up