alexametrics

Pertamina Lirik Produksi Migas di Maratua

16 April 2019, 13:26:16 WIB

JawaPos.com – PT Pertamina (Persero) terus menggenjot bisnis hulu migas. Tahun ini, program pengeboran dilakukan dua kali lipat dari tahun lalu, sejumlah 346 sumur. Pada triwulan I-2019, potensi ditemukan di bagian utara Kalimantan.

Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan H Samsu mengatakan, Pertamina terus memperkuat bisnis hulu dengan melakukan pendekatan yang tidak biasa untuk meningkatkan cadangan dan produksi migas perusahaan. Melalui anak usaha sektor hulu bergerak secara progresif untuk menemukan cadangan baru, baik di dalam wilayah kerja yang ada maupun melalui upaya new venture yang difokuskan pada lima area eksplorasi baru. Salah satunya membuka akses wilayah kerja baru Maratua di Kalimantan Utara.

“Untuk eksplorasi lapangan baru, kami memiliki komitmen pasti investasi. Perseroan menyediakan dana investasi lebih dari USD 200 juta untuk program seismik. Operasi pengembangan lapangan dilakukan untuk memastikan cadangan yang ditemukan bisa berubah menjadi produksi yang belum terbukti menjadi terbukti. Cadangan yang belum dibor akan dibor untuk membuktikan adanya cadangan migas,” katanya dikutip Kaltim Post (Jawa Pos Grup), Senin (15/4).

Dharmawan menambahkan, pada 2019 dari total sumur yang menjadi prioritas, terdapat 27 sumur eksplorasi di wilayah kerja existing dan 319 sumur eksploitasi. Pengeboran sumur tersebut akan menerapkan teknik yang non-tradisional.

Upaya konsisten tersebut telah mulai membuahkan hasil. Pada triwulan pertama, Pertamina mencatat kinerja eksplorasi yang menggembirakan. Anak perusahaan PT Pertamina Hulu Energi, Badan Operasi Bersama PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu (BOB PT BSP-Pertamina Hulu), berhasil menemukan cadangan minyak dari sumur Benewangi J-01. Tajak sumur yang selesai pada awal 2019 ini memiliki rate 540 barel minyak per hari.

Khusus untuk pengembangan Benewangi, tambah Dharmawan, Pertamina Hulu Energi telah mengidentifikasi beberapa prospektif basement play yang berada di wilayah kerja sekitarnya dengan perkiraan prospective resources sekitar 500 MMBO. Prospek ini mempunyai petroleum system yang sejenis dengan Benewangi.

Selanjutnya, pada Februari 2019, PT Pertamina EP juga berhasil menemukan cadangan migas dari sumur Randuwangi di kawasan Subang, Jawa Barat, yang diperkirakan sebesar 15 MMBOE. Pada kuartal ini Pertamina EP juga berhasil menemukan cadangan gas dan kondensat di area Pertamina EP Asset 4 di Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Menurut Dharmawan, penemuan sumur eksplorasi Morea-001 ini merupakan kelanjutan dari penemuan cadangan dari pemboran eksplorasi tahun lalu di struktur Wolai dengan contingent resources sekitar 250 miliar kaki kubik gas (BCFG) plus beberapa juta barel minyak (MMBO).

Penemuan cadangan migas baru struktur Wolai tahun lalu dan dari struktur Morea saat ini, akan menjadi menambah keyakinan Pertamina dalam kegiatan eksplorasi baik seismik maupun pemboran, serta melaksanakan akselerasi dan sinergi program EOR (Enhanced Oil Recovery) demi menambah cadangan migas.

“Kami akan terus melaksanakan kegiatan eksplorasi hulu migas. Tahun ini, kami juga menargetkan untuk dapat menyelesaikan survei seismik 2D sebanyak 31 km di daerah frontier Indonesia dan mulai menyiapkan survei seismik 3D di WK eksplorasi Maratua. Ini bertujuan mendukung program pemerintah dalam meningkatkan cadangan migas dan menjaga keberlanjutan produksi nasional sekaligus ketahanan energi nasional,” tuturnya.

Kepala SKK Migas Kalsul Syaifudin mengatakan, di wilayah Kalimantan dan Sulawesi ada 22 wilayah kerja (WK) eksploitasi. Target lifting pada 2019 berdasarkan RAPBN minyak 89.8870 bpod dan gas 2.455 mmscfd. Pihaknya optimistis mencapai target kerja itu. Ia berharap dukungan pada semua pemangku kepentingan.

Syaifudin menjelaskan, untuk produksi terbesar masih dipegang oleh PHM. Disusul ENI, Pertamina EP 4 dan 5, PHKT, serta PHSS. Untuk minyak tahun lalu, PHM memproduksi 42.331 bpod. Angka itu menurun dari 51.736 bpod. Tahun ini ditargetkan 50.000 bpod. Sedangkan lifting gas tahun lalu 149 ribu barrel oil equivalent per day (boepd). Menurun dari 2017 yang mencapai 230 ribu boepd. Tahun ini ditargetkan bisa mencapai 196 ribu boepd.

Editor : Saugi Riyandi



Close Ads