alexametrics

Soal Ladang di Libya, Medco Tunggu Situasi di Timur Tengah Kondusif

14 November 2019, 17:00:08 WIB

JawaPos.com – Sejak perang terbuka di Timur Tengah pecah beberapa tahun lalu, praktis kegiatan di ladang minyak Libya, salah satu milik PT Medco Energi Internasional Tbk terhenti. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi emiten bersandi MEDC, namun sepertinya perseroan tetap bersabar menunggu gejolak politik di sana mereda.

“Kita tunggu mereka damai, baru kita kerja lagi,” kata Komisaris Utama Medco Dedi Sjahrir Panigoro saat berkunjung ke kantor Jawa Pos, Selasa (12/11).

Dedi menyampaikan, ladang minyak di Area 47 di Libya itu merupakan ladang minyak terbesar yang dimiliki oleh Medco. Cadangan minyaknya, kata Dedi, mencapai 1 miliar barel.

Keyakinannya bahwa kegiatan di Libya bisa diteruskan pasca konflik berarkhir, dikarenakan pemerintah di sana menaati perjanjian. “Itu kita teken jaman Khadafi. Jatuh, penggantinya tetap menghormati juga. Sekarang ada cekcok, menghormati (perjanjian) juga. Ini tunggu selesai saja,” imbuh Dedi.

Sementara itu, setelah mengakuisisi beberapa blok di dalam negeri, rata-rata produksi minyak Medco tahun ini ada di angka 110 ribu barel oil perday (BOPD). Dedi melihat, dukungan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla waktu ini, dan kini dilanjutkan bersama Ma’ruf Amin sangat besar.

“Secara umum pemerintah terus berusaha mengikuti dan mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan industri,” ucapnya.

Misalnya, lanjut Dedi, pemerintah menawarkan insentif pajak, dan mempermudah perizinan. Selain itu, rezim Production Sharing Contract (PSC) yang tadinya menggunakan skema cost recovery telah diubah menjadi gross split. Dedi pun merasa, kepastian hukum di industri migas membaik.

“Saya kira kita beruntung, minyak dan gas bumi itu kepastian hukumnya besar, tinggi, karena minyak itu suatu bisnis internasional. Semua negara bersaing mendapatkan investasi sehingga itu peraturan itu harus diterima secara internasional,” pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati



Close Ads