JawaPos Radar

BPH Migas: Nozzle 5.518 SPBU Wajib Digital Pada Akhir 2018

13/08/2018, 16:14 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
BPH Migas: Nozzle 5.518 SPBU Wajib Digital Pada Akhir 2018
Digitalisasi nozzle dapat memudahkan BPH Migas mengawasi dan melakukan pendataan semua volume BBM PSO dan Non PSO (Dok. JawaPos.Com)
Share this

JawaPos.com - Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menginisiasi digitalisasi nozzle yang akan diterapkan di 5.518 SPBU dari 7.415 SPBU di seluruh Indonesia. 

Diharapkan, digitalisasi nozzle dapat memudahkan BPH Migas mengawasi dan melakukan pendataan semua volume BBM PSO dan Non PSO yang didistribusikan melalui SPBU. 

“Dulu (sebelum digitalisasi) kan enggak ada yang tau. Operasional nantinya akan ketahuan kalau dari terminal 8.000 liter maka yang terdistribusi akan termonitor di situ,” terang Vice President Retail Fuel Marketing PT Pertamina (Persero) Jumali di BPH Migas, Jakarta, Senin (13/8).

Sayangnya, target yang ditetapkan BPH Migas untuk 5.518 SPBU kurang realistis. Masalahnya waktu yang ditenggatkan amat singkat yakni 31 Desember 2018. Dalam konferensi pers yang dihadiri oleh perwakilan dari PT Telkom, PT Pertamina serta Kementerian ESDM tersebut juga belum dapat dipastikan bagaimana skema yang akan digunakan dalam membiayai proyek tersebut.

“Beberapa hari ini tiga hari dari sekarang mungkin ada perumusan anggaran dan bisnis modelnya sekarang. Sebab kontrak lagi disusun. Sehingga masih kita hitung bersama berapa investasi yang diperlukan,” jelasnya.

Pada prinsipnya, kata dia, digitalisasi nozzle akan memberikan konversi dari jumlah liter yang disalurkan nozzle dari format elektronik dan dikirim ke data center yang ada di suatu tempat.  Lalu data dari 5.518 SPBU itu di generate dan akan dibuat report analitic yang akan membantu BPH migas. 

“Kalau dimungkinkan (juga) bisa digunakan sebagai pengendalian,” jelasnya.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up