Rini Tak Terima Pertamina Dituding Jadi Biang Kerok Anjloknya Rupiah

12/09/2018, 17:21 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Menteri BUMN Rini Soemarno (Hana Adi/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno tidak terima jika Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dijadikan kambing hitam saat Rupiah melemah awal pekan lalu. Pasalnya, yang jadi biang kerok melemahnya Rupiah terhadap Dolar AS adalah pembelian minyak yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero).

Bagai simalakama, Pertamina juga tak dapat menunda impor demi stabilnya harga dan pasokan BBM dalam negeri. Selanjutnya, pemerintah pun mengeluarkan mandat B20.

“Belakangan ini, banyak sekali pembicaraan soal melemahnya rupiah dan membuat neraca (perdagangan) negatif, impor lebih besar dari ekspor, banyak yang mengatakan kalau BUMN lebih banyak pakai dollar (karena impor),” kata Rini di The Energy Building, Jakarta, Rabu (12/9).

Tak tinggal diam, Rini pun kemudian memanggil bos-bos BUMN yang mempunyai produk yang diekspor. Dia mengatakan selain perusahaan tambang, BUMN lain juga banyak yang melakukan ekspor.

"Ada semen, pupuk, obat-obatan, vaksin, banyak melakukan ekspor. Tak lupa juga dari pindad berupa senjata, tank yang tahun ini bisa capai USD 800 juta," kata Rini.

Lebih lanjut, ia mengatakan, saat ini BUMN kondisinya ditekan bukan hanya untuk meningkatkan kemampuan pasar domestik tetapi juga untuk ekspor. Ia pun berpesan khususnya pada direksi BUMN tambang untuk terus menggali produksi yang sangat besar.

“Selama ini kita malah banyak ekspor. Sebetulnya pemikiran (mengurangi impor) sudah cukup lama. Secara domestik sekarang kebutuhan dalam negeri meningkat, ada kompetitifnes secara global, tak ada salahnya produksi (barang jadi) yang bahan bakunya kita miliki,” ungkapnya.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi