JawaPos Radar

Semester I-2018, Pertamina EP Raup Laba Bersih USD 361 Juta

10/08/2018, 17:18 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Semester I-2018, Pertamina EP Raup Laba Bersih USD 361 Juta
Ilustrasi migas. Pertamina EP catatkan kinerja positif sepanjang Semester I-2018 (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - PT Pertamina EP mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I-2018. Hal itu ditandai oleh peningkatan kinerja keuangan maupun produksi migas periode Januari-Juni tahun ini dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Pertamina EP membukukan laba bersih sebesar USD 361 juta hingga Juni 2018 atau sekitar 65,95 persen dari target tahun ini sekitar USD 547 juta. Raihan laba tersebut naik 124,76 persen dibandingkan realisasi periode sama tahun lalu yang sebesar USD 289,4 juta atau 48,56 persen dari RKAP sebesar USD 595 juta.

Presiden Direktur Pertamina EP Nanang Abdul Manaf mengatakan peningkatan laba bersih pada semester I ditopang oleh kenaikan penjualan. Pada periode hingga Juni 2018, Pertamina EP membukukan pendapatan USD 1.458 juta, naik 118 persen dari USD 1.234 juta didorong oleh penjualan dalam negeri non-BBM sebesar USD 1.442 juta serta ekspor minyak mentah dan gas USD 16,4 juta.

“Kenaikan pendapatan juga ditopang oleh kenaikan harga minyak, yaitu USD 66,28 per barel (naik 138,1 persen dari USD 48,48 per barel dari periode sama tahun lalu) dan harga gas USD 6,07 per MSCF, naik 102,63 persen dari USD 5,92 (yoy),” ujar Nanang di Jakarta, Jumat (10/8).

Menurut Nanang, pendapatan Pertamina EP berasal dari hasil penjualan lifting di dalam negeri sebesar 13.632,26 MBO atau sekitar 45,2 persen terhadap RKAP 2018 sebesar 30.143 MBO. Sedangkan, penjualan ekspor minyak berasal dari ekspor kondensat Senoro Field Matindok sebesar 155 MBO ke Singapura dan Korea Selatan serta penjualan ekspor gas dari Unitisasi Suban sebesar 863,12 MMSCF ke konsumen Gas Supply Pte Ltd Singapura.

“Peningkatan penjualan sepanjang semester satu juga ditopang oleh realisasi produksi migas Pertamina EP yang naik 101,76 persen menjadi 252.529 BOEPD pada tahun 2018 dari 248.161 BOEPD di tahun 2017 (year of year),” katanya.

Hingga akhir Juni 2018, realisasi produksi harian minyak Pertamina EP adalah 76 rb BOPD atau 91,65 persen dari angka RKAP 2018 sebesar 83 rb BOPD dan 96,36 persen dibandingkan dengan realisasi produksi harian minyak di tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi gas hingga Juni 2018 mencapai 1.022,4 MMSCFD dari target RKAP 986.110 MMSCFD, lebih tinggi 104,28 persen daripada posisi akhir Juni 2017 sebesar 980,44 MMSCFD. Secara total produksi migas Pertamina EP sampai ahir Juni 2018 sebesar 252.529 BOEPD atau 99,73 persen dibandingkan RKAP 2018 sebesar 253.203.

“Dari lima asset dan kemitraan, kontributor terbesar produksi minyak adalah Asset 5 di Kalimantan dengan produksi rata-rata 18.530 BOPD sekitar 24 persen dari total produksi minyak Pertamina EP. Sedangkan produksi gas terbesar ada di Asset 2 di Sumatera Selatan sebesar 437,4 MMSCFD atau 43 persen dari total produksi gas Pertamina EP. Untuk total produksi migas ada di Asset 2, yaitu 92.424 BOEPD atau sekitar 37 persen,” kata Nanang.

Asset 5 sebagai kontributor produksi minyak terbesar, salah satunya dari hasil pemboran pada Field Tarakan (di Struktur Sembakung) dan Field Bunyu (Struktur Bunyu). Sedangkan Asset 2 sebagai kontributor produksi gas terbesar didukung oleh perbaikan kinerja kompresor di Field Prabumulih dan penambahan empat unit kompresor di Field Pendopo.

Pertamina EP juga telah merealisasikan anggaran biaya operasi (ABO) sebesar US$ 567 juta, naik 112,8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu USD 502,4 juta. Sedangkan anggaran biaya investasi (ABI) hingga akhir Juni sebesar USD 199,4 juta, naik 105,3 persen dari USD 189,67 (year of year).

Untuk meningkatkan cadangan migas, tambah Nanang, Pertamina EP juga melakukan kegiatan eksplorasi yang telah mencapai tujuh sumur. Sebanyak tiga sumur sudah selesai eksplorasi dan empat sumur dalam pelaksanaan pemboran. Untuk seismic 2D telah dilakukan sepanjang 153 km dan 3D seluas 344 km2.

“Pada semester II kami proyeksikan realisasi pemboran mencapai 13, seismic 2D sepanjang 1190 km dan 3D seluas 444 km2. Pemboran dilakukan pada beberapa area potensial seperti Akasia Maju dan Pinus Harum di Jawa Barat, Sekarwangi di Sumabgsel, dan Wolai di Sulawesi Tengah,” pungkasnya

(srs/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up