alexametrics

Potensi EBT Besar, Kaum Milenial Harus Ikut Berkontribusi

9 Januari 2019, 17:41:34 WIB

JawaPos.com – Potensi pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia cukup besar. Pasalnya, kebutuhan energi Indonesia terus meningkat setiap tahunnnya.

Mantan Ketua Komisi VII DPR, Milton Pakpahan mengatakan pemerintah menargetkan bisa mengoptimalkan EBT sebesar 23 persen pada 2030 mendatang. Sementara saat ini, pemanfaatannya hanya sekitar 5-6 persen dari total penggunaan energi di Indonesia.

“Kita punya potensi 29 ribu megawatt panas bumi, 75 ribu Megawatt tenaga air, 133,3 ribu Megawatt tenaga angin, 532 ribu Megawatt tenaga panas matahari, 18 ribu Megawatt tenaga gelombang dan 30 Megawatt tenaga nuklir,” ujar dia dalam diskusi bertajuk ‘Rencana Pengembangan Energi Terbaharukan dalam Perkembangan Infrastruktur Indonesia, Apakah Hanya Wacana’ di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (8/1).

Energi Panas Bumi
Ilustrasi energi panas bumi (Dok.JawaPos.com)

Milton menambahkan bahwa pemuda harus dilibatkan dalam pengembangan EBT. Kampus-kampus harus membentuk fakultas atau prodi terkait energi baru terbarukan. “Semakin banyak yang berpartisipasi, tentu akan berdampak positif. SDM kita punya potensi yang luar biasa dalam hal pengembangan EBT,” jelas dia.

Senada, Direktur Eksekutif Rumah Millennial Defli Yuandika Ruso menjelaskan pentingnya generasi milenial membahas tentang EBT. Pasalnya EBT merupakan kepentingan milenial saat ini dan di masa yang akan datang.

“Karena secara demografi, generasi milenial akan mendominasi jumlah penduduk Indonesia. Ketersediaan energi di masa mendatang akan mempengaruhi kualitas hidup generasi milenial,” jelas dia.

“Akan semakin banyak energi yang dibutuhkan di masa yang akan datang,” lanjut Defli.

Defli memaparkan bahwa perbandingan antara peningkatan produksi energi, jumlah penduduk dan kebutuhan energi yang terus meningkat dari tahun ke tahun harus disikapi kaum milenial.

Hambatan Regulasi dan Tingginya Target Pemerintah

Direktur Teknik dan BD Waskita Karya Energi, Hokkop Situngkir mengatakan bahwa pengembangan EBT berkembang lambat disebabkan beberapa faktor. Beberapa faktor tersebut antara lain faktor regulasi, “Pemerintah sering tidak konsisten dalam menerapkan peraturan soal EBT sehingga menyulitkan investor,” jelas dia.

Hokkop juga menyoroti soal faktor infrastruktur, di mana saat ini belum ada fasilitas yang menyambungkan energi dari sumber (biasanya terletak di remote area) ke konsumen. “Termasuk faktor kesadaran masyarakat, banyak dari kita belum menganggap EBT sebagai hal penting di masa depan,” beber dia.

Hokkop menambahkan bahwa Industri EBT sangat besar potensinya. Industri energi baru terbarukan dapat melahirkan lapangan kerja baru. Di beberapa negara maju, industri manufaktur mendukung pengembangan EBT.

Program Manager Sustainable Energy Access IESR, Citraningrum menyayangkan target pemerintah yang terlalu tinggi dalam pengembangan EBT. Hal ini dapat terlihat dengan masih sangat dominannya penggunaan bahan bakar fosil seperti batubara.

“Kebijakan pemerintah harus berorientasi ke Clean Energy yang meminimalkan penggunaan bahan bakar fosil,” jelasnya.

Citra memaparkan bahwa pemanasan global seharusnya membuat penggunaan EBT menjadi sangat penting. Pemanasan global yang memicu perubahan iklim, memaksa negara-negara di dunia harus menggunakan EBT dalam menurunkan emisi karbon.

“Harga perangkat EBT sekarang masih mahal namun seiring berjalannya waktu harga tersebut akan turun. Investasi yang kecil di sektor ini menjadi penyebab kemandekan pengembangan energi terbaharukan. Investor menilai investasi di sektor energi terbarukan sangat beresiko,” kata dia.

Editor : Imam Solehudin

Reporter : Imam Solehudin



Close Ads
Potensi EBT Besar, Kaum Milenial Harus Ikut Berkontribusi