Rupiah Terus Anjlok, Pertamina: Belum Ada Kenaikan Harga BBM

05/09/2018, 16:56 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Petugas SPBU mengecek dispenser BBM (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sebagai salah satu kontributor pengimpor minyak terbesar, membuat PT Pertamina (Persero) jadi pemborong Dolar Amerika Serikat. Hal ini jadi salah satu faktor yang membuat dollar AS jadi terus perkasa ditengah kondisi ekonomi global yang mengalami ketegangan.

"Harga BBM Pertamina masih tetap dan belum ada rencana penyesuaian harga," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito di Jakarta, Rabu (5/9).

Sebagai salah satu badan usaha hilir migas, Pertamina akan terus memantau kondisi nilai tukar rupiah ini agar Pertamina tetap mampu menjaga penyediaan dan melayani kebutuhan BBM di masyarakat.

Selaku Badan Usaha, Pertamina akan melaporkan setiap perubahan harga BBM kepada Menteri ESDM, sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 34 tahun 2018 tentang perhitungan harga jual eceran BBM.

"Pertamina patuh pada aturan Pemerintah bahwa setiap penyesuaian harga harus dilaporkan dahulu," jelas Adiatma.

Sebelumnya, pemerintah buru-buru menyangkal bahwa dampak pelemahan rupiah membuat pemerintah segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan.

"Pemerintah tidak merencanakan kenaikan harga bbm dalam waktu dekat,” ujar Jonan.

Hal itu lantaran neraca migas yang masih surplus. Jonan mengatakan untuk triwulan II 2018 penerimaan negara dari lifting migas totalnya USD 3,57 miliar, sementara ekspornya mencapai USD 2,97 miliar. Sedangkan impor migas totalnya USD 6,29 miliar. Jika ditotal jumlah penerimaan negara dari lifting dan ekspor dikurangi impor masih ada surplus USD 0,25 miliar.

"Yang harus dibandingkan adalah penerimaan negara di bidang migas berapa ditambah ekspornya dikurangi impor (dan) itu cuma sedikit selisihnya. Penerimaan negara dari migas itu dalam USD, sama dengan ekspor, lah itu masa ga diakui,” kata Jonan.

Namun begitu, devisa hasil ekspor yang diperoleh menjadi milik kontraktor. Dengan gambaran seperti itu maka meningkatnya harga minyak dan Dolar AS tak perlu membuat harga BBM naik dalam waktu dekat.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi