alexametrics

Target Indonesia Turunkan Konsumsi Batu Bara untuk Kebutuhan Energi

4 Desember 2019, 12:35:01 WIB

JawaPos.com – Pemerintah Indonesia berencana mengurangi konsumsi batu bara sebagai pembangkit energi di dalam negeri. Dalam road map Kebijakan Energi Nasional (KEN) dirumuskan bahwa pemanfaatan batu bara dalam bauran energi nasional ditargetkan hanya 30 persen pada 2025. Jumlah itu pun ditargetkan untuk diturunkan menjadi hanya 25 persen pada 2050.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Hendra Sinadia mengatakan bahwa urusan pemanfaatan limbah batu bara di Indonesia belum cukup terdepan. Di negara maju seperti Amerika Serikat, India, Tiongkok, dan Jepang, mereka menyerap fly ash, bottom ash, dan gipsum sebagai bahan pembuatan jalan, jembatan, paving blok, semen, dan sebagainya.

Hendra mengungkapkan, di negara lain limbah batu bara tidak dianggap sebagai limbah B3 atau bahan berbahaya dan beracun. “Limbah batu bara, abu batu bara itu bisa digunakan untuk bahan konstruksi di berbagai negara. Cuma di sini saja dianggapnya sebagai B3. Ini kan jadi masalah. Padahal di negara-negara lain seperti di Jepang, limbah batu bara itu dijadikan bahan konstruksi, bahan bendungan, dan jalan. Jumlahnya besar, bisa dimanfaatkan sebenarnya,” urai Hendra, Rabu (4/12).

Sementara itu, Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman juga mengungkapkan hal menarik terkait pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU). Dirinya mengatakan pernah beberapa kali mengunjungi PLTU Paiton di Probolinggo, Jawa Timur. Sebagai catatan, PLTU Paiton sendiri sudah berdiri sejak 1994 sebagai salah satu PLTU terbesar dan penyuplai listrik terbesar di daerah Jawa-Bali.

“PLTU Paiton itu menggunakan batu bara sebagai bahan baku dan yang paling menarik hanya berjarak 500 meter dari bibir pantai. Kami beberapa kali ke sana, sejauh ini keluhannya tidak ada,” jelas Ferdy.

Penemuan itu rupanya berbanding terbalik dengan asumsi yang dianutnya sebelum berkunjung ke Paiton. “Saya pertama kali berasumsi PLTU dekat sekali dengan bibir pantai. Kalau berdekatan dengan bibir pantai pasti merusak biota laut dan karang. Nah, ternyata dari penelusuran tidak demikian. Malah masih terjaga dengan baik, tidak ada yang rusak. Itu hasil penelusuran kami di lapangan,” sebutnya.

“Lalu keluhan-keluhan dari masyarakat terkait dengan polutan-polutan itu berdasar kajian kami di Paiton itu belum ada. Ketika kami menelusuri lebih jauh ternyata manajemen bilang bahwa proses awal dalam pembuatan rancangan desain Paiton dilakukan dengan hati-hati,” imbuh Ferdy.

Menurut Ferdy, manajemen Paiton sedari awal sudah mengukur efek dan dampak jika terjadi kerusakan lingkungan hidup dari keberadaan PLTU. “Sejak awal memang kalau kajiannya sudah merusak lingkungan hidup pasti tidak akan dikasih AMDAL oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan pasti akan diberi teguran-teguran,” ujar Ferdy.

Berdasar itu, Ferdy berkesimpulan meski secara teoritis batu bara mengandung karbon yang tinggi dan unsur polutannya besar, namun risiko itu bisa diminimalkan dengan manajemen pengelolaan PLTU dengan baik. “Maka itu, perusahaan-perusahaan yang masuk dalam pengelolaan PLTU harus benar-benar dikawal oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan kerja sama dengan Kementerian ESDM,” tegas Ferdy.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Agfi


Close Ads