JawaPos Radar

Cerita DPR Soal Kilang Minyak Mini Sandiaga Uno

04/09/2018, 09:22 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Cerita DPR Soal Kilang Minyak Mini Sandiaga Uno
Ilustrasi sumur minyak (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Tri Wahana Universal (TWU) adalah perusahaan kilang minyak mini di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Luasnya 7,2 Ha dengan jarak 7 Km dari sumur minyak Lapangan Banyu Urip yang dioperasikan oleh ExxonMobil Cepu Limited. Pada September 2013, 47,5 persen kilang mini ini dikuasai oleh Sandiaga Uno melalui PT Saratoga Investama Sedaya Tbk sedangkan sisanya milik Rudi Tavinos, pengusaha dari Minangkabau.

Kilang TWU selesai dibangun pada tahun 2010 dengan kapasitas 6.000 Bpd (Kilang Train I) di Bojonegoro, kemudian pada tahun 2014 Kilang Train II mulai beroperasi dan menaikkan kapasitas produksi sampai dengan 18.000 Bpd.

Produksi TWU ditunjang 100 persen bahan bakunya dari lapangan banyu urip yang dikelola Exxon Mobil Indonesia, yakni crude bagi hasil untuk negara yang dikelola oleh Pertamina. 

Wakil Ketua Komisi VI Inaz N Zubir menceritakan, selama era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), crude bagian ini dijual murah kepada TWU tanpa melalui proses tender.

“Yang paling mengherankan adalah kuasa jual crude bagian Negara tersebut diberikan kepada Exxon Mobil Cepu dengan formula harga mulut sumur, padahal Pertamina melalui Pertamina EP Cepu adalah pengelola crude bagian Negara tersebut,” ujarnya dalam siaran persnya, Minggu (2/9).

Pada tahun 2015, lanjutnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mempersoalkan murahnya minyak bagian negara yang dijual kepada TWU, dimana kemudian awal tahun 2016 transaksi penjualan crude bagian negara tersebut dihentikan karena kontrak transaksi jual beli crude bagian negara untuk TWU berakhir tgl 16 Januari 2016, dan tidak diperpanjang, akibatnya produksi kilang-pin terhenti tanggal 20 Januari 2016.

Pada bulan Agustus 2016, TWU kembali beroperasi setelah Kementerian ESDM menentukan formula sementara yang tertuang dalam  Kepmen ESDM Nomor 168.K/12/DJM.B/2016 tentang Penetapan Formula Harga Minyak Mentah Indonesia Sementara Untuk Jenis Minyak Mentah Banyu Urip, aturan yang ditetapkan 23 Juni 2016 itu menyebutkan harga minyak mentah Banyu Urip di titik serah FSO Gagak Rimang sebesar ICP Arjuna dikurangi USD 0,50 per barel. 

Menurutnya, harga tersebut digunakan kemudian dalam Perjanjian Jual Beli Minyak antara Pertamina dan PT Tri Wahana Universal (TWU). “Jadi tidak ada lagi penjualan dari titik serah fasilitas produksi awal (Early Production Facility/EPF) atau mulut sumur,” imbuhnya.

Inaz menyebut, formula sementara tersebut dinilai tidak menguntungkan negara, oleh karena itu pemerintah mengubah kembali harga minyak dari Lapangan Banyu Urip melalui Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 4028 K/12/MEM/2017. 

Keputusan yang berlaku 21 November 2017 itu menyebutkan formula minyak mentah Banyu Urip adalah ICP Arjuna plus USD5,50 per bareI pada titik serah fasilitas di penampungan terapung (Floating Storage and Offloading/FSO) Gagak Rimang.

Dengan harga minyak dunia di atas USD 50, kata dia, kilang TWU tidak lagi ekonomis sehingga perusahaan memutuskan untuk menghentikan operasional-nya tanggal 31 Januari 2018 yang lalu.

“Terhentinya kilang TWU yang sudah menyerap uang Sandiaga Uno cukup besar ini, menjadi alasan kuat bagi Sandi untuk membuat keputusan mengejar kekuasaan di republik ini agar dapat menghidupkan kembali kilang TWU miliknya, karena dengan kekuasaan pemerintahan ditangan maka TWU dipastikan akan memperoleh crude murah lagi dari bagian negara,” tandasnya.

Hingga saat ini, pihak Saratoga belum dapat dikonfirmasi terkait hal tersebut.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up