alexametrics

Ancaman Krisis Iklim Harus jadi Pelecut Semangat Optimalisasi EBT

2 Desember 2020, 12:02:13 WIB

JawaPos.com – Energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan, mencapai 442 gigawatt (GW). Indonesia juga memiliki sumber yang beragam seperti surya, air, angin, panas bumi, bio energi, dan gelombang samudera.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan bahwa tren bauran energi terbarukan Indonesia tiap tahun meningkat hingga 10,9 persen pada 2020. “Kontribusi energi terbarukan terbesar kini didominasi oleh energi-energi terbarukan utama yaitu energi hydro/air, panas bumi, bioenergi,” ujarnya dalam Webinar Nasional bertema ‘Hidup Baru dengan Energi Terbarukan’, Rabu (2/12).

Energi terbarukan di Indonesia, misalnya di Jawa Tengah, memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan. Jateng memiliki potensi besar dalam pengembangan PLTP.

Bahkan potensi daya panas bumi di seluruh area ini mencapai 5.000 MW. Saat ini, ada enam titik panas bumi yang ditangani sejumlah lokasi, seperti di Gunung Ungaran, Gunung Lawu, Baturaden, Guci, Telomoyo, dan Dieng.

PLTA di Indonesia juga memiliki potensi yang besar. PLTA Kayan di Kalimantan Utara sebagai contoh memiliki kapasitas 9.000 MW. Sedangkan PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, berkapasitas 510 MW.

PLTA ini akan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 1,6 juta ton per tahun atau setara dengan kemampuan 12 juta pohon menyerap karbon.

Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa menambahkan bahwa PBB sudah memperingatkan krisis iklim harus ditangani secara serius, mengingat adanya 70 persen pembakaran bahan bakar energi. “Karena sektor energi kontributor terbesar maka implikasinya apa? Jika kita ingin mencegah peningkatan suhu bumi 2 derajat, maka dua pertiga cadangan energi fosil tidak boleh dibakar dan harus dibiarkan di dalam tanah,” tegasnya.

Berbagai negara punya target yang lebih ambisius seperti Tiongkok yang menyatakan akan mencapai carbon neutrality pada 2060. Padahal penggunaan energi fosil di sana setara 30 kali PLTU Indonesia.

Pemerintah Jepang dan Korea Selatan menyusul, menyatakan akan mencapai carbon neutrality. “Sekarang masyarakat internasional menunggu kapan Indonesia membuat komitmen serupa,” tambahnya.

Di sisi lain, Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar berpendapat bahwa saat ini Indonesia butuh generasi muda yang cerdas iklim agar mereka dapat menjadi aktor utama upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Hal ini penting karena generasi muda sekarang yang akan paling merasakan dampak jika perubahan iklim makin menjadi kenyataan di masa depan.

“Jadi, generasi muda seperti mahasiswa sangat penting memahami dan memiliki pengetahuan tentang perubahan iklim serta upaya-upaya mitigasi dan adaptasinya,” ujarnya.

Apalagi, lanjut Wimar, saat ini laju perubahan iklim terus meningkat, bukan melambat. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB mengatakan tanda-tanda dan dampak perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan laut, hilangnya es, dan cuaca ekstrem, meningkat selama 2015-2019, yang ditetapkan menjadi periode lima tahun terhangat yang pernah tercatat.

Wimar menganalogikan bahwa pandemi seperti saat ini, terjadi karena tidak bijaknya manusia menggunakan teknologi. Dia menyebut jalannya penanganan pandemi sejalan dengan pertumbuhan energi terbarukan.

“Menjaga sumber daya alam itu sama dengan menjaga sumber daya manusia. Jika dilakukan secara analitis maka tidak ada yang salah,” pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Agfi


Close Ads