Ekonom Muda Ini Beberkan Terpuruknya Nilai Tukar Rupiah

29/06/2018, 07:30 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Ekonom Indef Bhima Yudistira (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Nilai tukar Rupiah hari ini kembali anjlok terhadap Dolar Amerika Serikat. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Kamis (28/6), Rupiah berada di level Rp 14.271 per USD atau melemah 108 basis poin.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, pelemahan rupiah terjadi karena disebabkan oleh besarnya tekanan global setelah perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terus berlanjut.

"Ekspektasi kenaikan Fed rate 4 kali tahun ini dan kenaikan harga minyak karena Trump serukan boikot impor minyak dari Iran. US Dolar index langsung loncat ke 95. Artinya dolar AS menguat terhadap mata uang dominan lainnya," ujarnya kepada JawaPos.com, Jumat (29/6).

Rupiah kalah perkasa dibanding Dolar AS. (Dok. Jawapos.com)

Selain itu, sejumlah capaian di sektor ekonomi saat ini juga dinilai tidak sesuai dengan harapan. Misalnya neraca perdagangan Mei yang kembali defisit di USD 1,52 miliar, defisit transaksi berjalan melebar dan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 beberapa lembaga dikoreksi turun sulit tembus 5,4 persen.

"Itu yang membuat pelaku pasar melakukan net sales atau aksi jual di bursa saham dan pasar surat utang. Jadi efek kenaikan bunga acuan besok pun sangat kecil dampaknya dan lebih temporer," jelasnya.

"Yield SBN 10 tahun juga terus naik dikisaran 7,6 persen menunjukkan investor cenderung melepas kepemilikan SBN. Ada capital outflow dari pasar modal dan surat utang. Investor asing menghindari negara berkembang," tandasnya.

(ce1/hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi