alexametrics

GORC Ingatkan Soal Ledakan Gelembung Bisnis Startup

26 November 2019, 20:16:42 WIB

JawaPos.com – Bisnis startup memiliki celah kegagalan cukup besar dan berpotensi menyebabkan Bubble (gelembung, red) ekonomi. Pandangan itu diungkapkan Direktur Generasi Optimis Research and Consulting (GORC) Frans Meroga Panggabean.

“Fenomena gelembung spekulatif dalam bisnis startup ini mulai muncul. Di Indonesia tinggal tunggu waktu meletus,” kata Frans di Jakarta, Senin (25/11).

Pandangan itu terkait kabar mengejutkan perusahaan startup WeWork dengan bisnis utama berbagi ruang kerja terancam bangkrut dan akan mem-PHK 4.000 karyawannya.

Sebagaimana dilansir dari New York Times, WeWork yang telah menyandang predikat Decacorn dengan nilai valuasi lebih dari USD 10 miliar itu mengalami kerugian USD 1,25 miliar.

Kejutan belum selesai, Softbank Group raksasa investasi dari Jepang juga sebagai investor utama dari WeWork dan Uber menyatakan bahwa merugi sampai Rp 100 triliun akibat anjloknya nilai valuasi Uber dan WeWork.

Frans menyebut, bisnis digital yang selama ini dianggap sebagai lokomotif ekonomi terdepan dalam era industri 4.0 mulai berjatuhan satu demi satu. Bahkan Forbes pernah merilis angka kegagalan dalam bisnis start-up itu mencapai 90 persen.

“Fenomena ini dikenal dengan internet bubble. Pets.com bangkrut, diikuti dengan Boo.com, Webvan, hingga semua saham perusahaan internet turun 75 persen,” ujar lulusan MBA dari Grenoble Universite, Perancis itu.

Dalam riset GORC terungkap gejala latah bisnis digital ini hampir sama seperti yang terjadi pada tahun 2000. Kala itu muncul fenomena yaitu banyak perusahaan internet yang sempat mempunyai nilai triliunan berakhir gagal tanpa nilai sama sekali.

Frans menilai bisnis startup tidak mempunyai modal sosial yang kuat dalam ekosistem bisnisnya. Strategi bakar uang akan terus dilakukan demi tetap eksis dalam persaingan karena pasar hanya loyal terhadap harga dan promo serta diskon. Itu akan selalu menjadi “lingkaran setan” yang tidak ada habisnya jika pemain baru ingin masuk dalam suatu pasar.

“Seharusnya bangun modal sosial yang kuat terlebih dahulu dalam sebuah ekosistem, dengan melibatkan semua stakeholder untuk berkomitmen membesarkan usaha yang ada untuk kesejahteraan bersama,” paparnya.

Jadi, lanjut penulis buku Ma’ruf Amin Ways itu, dukungan aplikasi digital hanyalah sebagai enabler dan akselerator setelah modal sosial tertanam dengan kuat antar semua pemangku kepentingan. Jadi sistemnya jangan terbalik, seharusnya aplikasi digital baru dipakai sebagai kemasan untuk membantu dan mempercepat pencapaian tujuan usaha.

“Setelah hubungan antar semua peran dalam rantai pasok sudah terjalin dengan solid,” jelas Frans lagi.

Karena itu, GORC mendorong pemerintah dengan dimotori Kementerian Koperasi & UKM untuk mengkampanyekan gerakan nasional agar semua masyarakat termasuk generasi milenial mengenal dan familiar dengan koperasi.

Bagi Frans, koperasi merupakan jenis badan usaha yang tepat untuk menaungi bisnis generasi milenial saat ini. Prinsip kehadiran koperasi sebagai kumpulan orang, akan sangat berbeda dengan prinsip korporasi.

Dalam koperasi berlaku prinsip one man one vote, bukan one share one vote seperti korporasi. Kaidah itu akan selalu mempererat hubungan antar anggota dan selalu membudayakan musyawarah untuk mufakat yang pastinya otomatis memperkuat modal sosial dalam ekosistem usaha yang digeluti.

“Lagipula dengan sifat-sifat kesetaraan dan egaliter serta ekonomi berbagi yang selalu dikedepankan koperasi, cocok sekali dengan generasi muda sekarang. Itu kan milenial banget,” ujar Frans.

Ditambahkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 33 Tahun 1998 tentang modal penyertaan dalam koperasi pun, apabila bisnis start-up berbentuk koperasi tetap dapat lincah, dan tangkas untuk mengakses modal.

Karena itu, ia mendorong Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki diminta menggelorakan gerakan ini yang bertujuan memasyarakatkan koperasi dan menumbuhkan minat, dan cinta masyarakat untuk berkoperasi.

“Kami juga mendorong segera dirumuskan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Pak Teten sebagai Menkop, Pak Tito sebagai Mendagri, serta Pak Halim sebagai Menteri Desa untuk memastikan gerakan nasional ini berhasil sesuai dengan harapan,” pungkas Frans.

Editor : Dimas Ryandi


Close Ads