alexametrics

Hitung-hitungan Tarif Ojol Anyar, Untung atau Buntung?

26 Maret 2019, 12:24:54 WIB

JawaPos.com – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akhirnya mengumumkan biaya jasa ojek online (ojol) pada Senin (25/3). Kebijakan tersebut bakal berlaku pada 1 Mei 2019 mendatang. Dalam ketentuan biaya jasa ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub membaginya dalam tiga zona.

Adapun zona 1 meliputi wilayah Jawa non-Jabodetabek, Sumatera, dan Bali. Zona 2 meliputi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Terakhir, zona 3 meliputi Kalimantan, Papua, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berikut rincian biaya jasanya:

1. Zona 1: Biaya jasa batas bawah sebesar Rp 1.850 per km dan tarif batas atas sebesar Rp 2.300 per km. Sementara itu biaya jasa minimal sebesar Rp 7 ribu-Rp 10 ribu.

2. Zona 2: Biaya jasa batas bawah sebesar Rp 2 ribu per km dan tarif batas atas sebesar Rp 2.500 per km. Sementara itu biaya jasa minimal sebesar Rp 8 ribu-Rp 10 ribu.

3. Zona 3: Biaya jasa batas bawah sebesar Rp 2.100 per km dan tarif batas atas sebesar Rp 2.600 per km. Sementara itu biaya jasa minimal sebesar Rp 7 ribu-Rp 10 ribu.

Dari tarif tersebut, biaya jasa minimal merupakan biaya jasa yang dibayarkan oleh penumpang untuk jarak tempuh paling jauh 4 kilometer (km). Adapun tarif yang berlaku itu bersifat nett atau bersih diterima pengemudi. Sementara itu, dari besaran biaya itu, aplikator diperkenankan mengenakan biaya maksimal 20 persen dari biaya jasa yang sudah ditentukan.

Nah, JawaPos.com coba melakukan hitung-hitungan terhadap biaya jasa ini. Apakah menguntungkan bagi konsumen atau justru bikin buntung?

Mari mencoba melakukan simulasi pada titik-titik tujuan favorit para penumpang. Di sini, ada beberapa tempat yang kami pertimbangkan. Ada pusat perbelanjaan, stasiun, perkantoran, hingga lembaga pendidikan seperti sekolah maupun universitas.

Sebagai contoh, Mal Kota Kasablanka (Kokas) adalah salah satu favorit pusat perbelanjaan masyarakat. Biasanya, banyak masyarakat yang setelah berkunjung ke sana, kemudian kembali ke rumah melalui Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Berdasarkan jarak, Mal Kokas-Stasiun Tebet hanya berjarak 3,9 kilometer (km). Itu artinya, tarif yang dibayarkan adalah flat, yakni sekitar Rp 7-10 ribu. Tergantung nantinya aplikator menerapkan berapa besarannya.

Hanya saja, angka itu belum ditambahkan biaya dari aplikator. Katakanlah mereka mengenakan biaya sebesar 20 persen dari angka maksimal biaya flat tersebut, yakni Rp 10 ribu. Maka, jumlah yang harus dibayarkan adalah Rp 12 ribu.

Mari kita coba wilayah yang sedikit lebih jauh, yakni dari Stasiun Palmerah menuju Mal Taman Anggrek yang jaraknya sekitar 6 km. Maka, perhitungannya adalah biaya maksimal tarif flat 4 km Rp 10 ribu + Rp 5 ribu (2.500 x 2 KM) + 20 persen = Rp 18 ribu. Angka ini nantinya bisa berbeda saat penerapannya, tergantung bagaimana aplikator menentukan arah kebijakannya terhadap besaran biaya jasa ojol.

Oleh karena itu, semua kembali pada masyarakat itu sendiri. Murah atau mahal, mereka yang menentukan sebagai konsumen.

Dengan dinamika yang terus berkembang, masyarakat juga semakin punya banyak pilihan dalam menggunakan transportasi. Di sisi lain, pemerintah juga harus terus berupaya memberikan upaya terbaik untuk mendorong perkembangan transportasi massa di tanah air.

Editor : Saugi Riyandi

Reporter : Hana Adi

Copy Editor : Fersita Felicia Facette

Saksikan video menarik berikut ini:

Hitung-hitungan Tarif Ojol Anyar, Untung atau Buntung?