alexametrics

Wawancara Khusus Wakil Presiden Jusuf Kalla (1): Jaga Stabilitas Ekonomi di Level Baru

23 Desember 2016, 07:24:00 WIB

UNCERTAINTY (ketidakpastian) di tataran ekonomi global seiring terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS) serta potensi fluktuasi harga minyak tidak menyurutkan optimisme pemerintah. Kemarin (22/12) Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menjelaskan dengan gamblang kondisi perekonomian Indonesia yang di­yakini tetap bisa tumbuh. Saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor Wapres, pejabat berlatar pengusaha itu menyampaikan pandangannya seputar ekonomi Indonesia kepada tim Jawa Pos yang terdiri atas Pemimpin Redaksi Nurwahid, Wakil Pemimpin Redaksi Nanang Prianto, Direktur Jawa Pos TV Maesa Samola, Kepala Biro Jakarta Ahmad Baidhowi, dan Wartawan Jawa Pos Juneka Subaihul Mufid. 

JK menyebutkan, ada titik stabilitas baru yang sedang dipijak perekonomian Indonesia. Berikut petikan wawancara di meja ruang kerja JK kemarin. 

Pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun ini diproyeksikan mencapai 5,02 persen, lebih baik daripada tahun lalu. Bagaimana evaluasi kinerja ekonomi 2016 dan proyeksi 2017? 

Ekonomi itu selalu terpengaruh eksternal dan internal. Di level global, yang membeli kurang pasti, yang menjual juga kurang (aktivitas ekonomi turun, Red). Karena itulah, terjadi penurunan di mana pun, di Amerika, China, Eropa. Efeknya tentu sampai di sini karena kita bagian dari ekonomi dunia. 

Pertumbuhan tahun ini tidak terlalu jauh beda, sedikit lebih baik. Tahun lalu kan 4,8 persen, sekarang naik bisa 5 persen. Dibandingkan dengan (pertumbuhan ekonomi) dunia yang kurang lebih 2,8 persen, tentu kita lebih baik. Walaupun kita masih di bawah pertumbuhan beberapa negara China, India, dan Vietnam. Tapi, kita berada di tengah-tengah seperti itu. Jadi, ada stabilitas di tingkat baru. 

Ekonomi daerah tumbuh beragam. Ada yang lebih tinggi dari (pertumbuhan) nasional, tapi juga ada yang di bawah. Faktor apa saja yang berperan? 

Indonesia ini negara kepulauan yang besar. Ya pasti ada disparitas-disparitas. Ada daerah yang kaya dengan sumber daya alam. Ada yang tidak. Itu berbeda-beda. Karena itu, kita selalu bicara tentang keadilan dan pemerataan. Makanya, di luar Jawa diperbanyak infrastruktur supaya ekonominya lebih beralih ke situ.

Di Jawa, karena jumlah penduduk 160 juta jiwa, tingkat konsumsi tinggi sehingga industri bikin pabrik di sini. Tapi, tentu kemiskinan juga banyak itu, di kota-kota apalagi. Jadi, tidak otomatis di luar Jawa itu ada disparitas. 

Bagaimana tingkat konsumsi di wilayah luar Jawa? Misalnya, Sulawesi? 

Iya (tinggi) karena di sana produksinya berbasis makanan. Apakah itu beras, jagung, cokelat, kopi, dan ada tambang. Jadi, pen­dapatan orang tidak menurun saat harga komoditas tambang turun. Berbeda dengan di Kalimantan yang banyak mengandalkan mineral tambang, (konsumsinya) bisa turun (saat harga komoditas turun). Atau karet di Sumatera menurun. Tapi, ini kan situasional.

Berkaitan dengan harga komoditas, bagaimana pengaruh kenaikan harga minyak dunia yang kini berkisar USD 50 per barel? 

Harga minyak kan harga komoditas yang fluctuating-nya tinggi sekali, bisa USD 100 per barel, bisa USD 20 per barel. Sebab, faktornya banyak sekali. Ada faktor supply and demand. Ada faktor geopolitik. Ada faktor konflik. Ada faktor persaingan antara minyak dan gas, antara minyak biasa dan shale oil. Ada lagi antara negara OPEC dan non-OPEC. Tapi, sekarang OPEC mengurangi produksi sehingga harga mulai masuk di atas USD 50-an (per barel).

Tapi, menurut saya, minyak tidak bisa melampaui USD 60 per barel. Kenapa tidak bisa? Sebab, begitu melampaui, shale oil dan shale gas itu mulai ekonomis lagi. Sedangkan kalau harga USD 60, ia feasible (layak produksi) sehingga begitu USD 60, pasti supply akan banyak lagi. 

Bagaimana dengan faktor geopolitik di Timur Tengah yang sulit dikendalikan? 

Yang tidak bisa diselesaikan adalah masalah konflik keamanan di Timur Tengah. Itu merusak produksi Iraq, Iran, dan Libya. Apalagi supply-nya akan turun. Jadi, minyak itu tidak bisa diprediksi betul karena faktor harga turun naik itu banyak sekali. Makanya, fluktuasinya tinggi sekali. Bahkan, satu omongan menteri Arab Saudi saja bisa membuat harga minyak naik atau turun.

Bagaimana pengaruh fluktuasi harga minyak terhadap ekonomi Indonesia? 

Kita ini pengimpor energi, net importer. Bukan lagi pengekspor. Kebutuhan BBM kita 1,6 juta barel per hari. Produksi kita hanya 800 ribu atau setengahnya. Jadi, kalau harga turun, ya alhamdulillah, subsidi tidak banyak. Tapi, kalau harga naik, subsidinya banyak. 

Jadi, harga (minyak) USD 50-an (per barel) ini oke-oke sajalah. Mau USD 40, mau USD 50 atau USD 60, tidak ada pengaruhnya untuk kita. Beda dengan Saudi. Begitu turun sampai USD 40, dia punya pendapatan 90 persen dari minyak, maka habis dia. Sisa pendapatan kita dari minyak saat ini hanya 25 persen. 

Misalkan harga minyak naik lagi ke kisaran USD 60 per barel, APBN masih aman? 

Dari sisi supply and demand, posisi USD 60 akan ada ekuilibrium (titik keseimbangan). Penerimaan sektor migas kita, kalau harga USD 60, masih oke. Untuk bensin, kita impor banyak. Kalau harga USD 60, itu bisa kita jual premium dengan harga Rp 6.000 sampai Rp 7.000 (per liter). 

Porsi subsidi BBM makin kecil, apakah ancaman fluktuasi minyak terhadap defisit APBN mereda? 

Dari sisi penerimaan, tidak banyak pengaruh. Dari sisi subsidi juga tidak terlalu besar. Terkecuali harga minyak naik di atas USD 70. Nah, itu artinya subsidi akan besar kalau kita tidak naikkan harga BBM. 

Uncertainty (ketidakpastian) di level global meningkat seiring terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Banyak yang bilang Trump effect berpengaruh ke ekonomi global. Bagaimana dengan Indonesia? 

Memang, Donald Trump punya janji-janji kampanye. Pertanyaanya, apa mungkin janji kampanye itu dilaksanakan? Kan tidak mudah. Contoh yang paling sederhana, mau pagarin Meksiko dan Amerika, apa mungkin? Mau pajakin produk-produk China, apa mungkin?

Kalau dia pajakin produk China 40 persen, yang pertama marah orang Amerika sendiri karena barang yang mereka beli jadi lebih mahal. Ada yang menghitung, kalau iPhone dibikin di Amerika, harganya 50 persen lebih tinggi. Apa Amerika mau membeli barang mahal seperti itu?

Pendapatan orang Amerika secara riil akan menurun kalau barang-barang mahal. Timbul inflasi di Amerika. Jadi, kampanye dan pelaksanaan nanti jauh beda. Tidak semua hal yang dijanjikan saat kampanye itu bisa dilaksanakan. Dia kan pengusaha, jadi akan lebih realistis.

Bagaimana pengaruh Trump effect ke sektor riil? 

Perdagangan kita sebenarnya tidak besar dengan Amerika. Dalam artian kebutuhan masyarakat. Perdagangan kita yang besar dengan Amerika itu kan di bidang industri seperti alas kaki dan garmen. Dia mau apa coba? Memangnya garmen itu bisa dibikin di Amerika? Itu harganya bisa sampai tiga kali lipat. Kalau Nike dibikin di Amerika, siapa buruhnya? Tidak mungkin itu (terlaksana). 

Terkait dengan hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika, bagaimana pengaruh terpilihnya Trump? 

Tidak terlalu banyak pengaruhnya terhadap hubungan politik kita. Siapa pun presidennya. Sebab, dalam hal tertentu, Amerika butuh kita. Demikian pula, kita butuh investasi Amerika, khususnya di bidang oil and gas atau di bidang teknologi yang lebih tinggi. Jadi, hubungannya masih akan berjalan baik. (jun/c5/ang)

Editor : Thomas Kukuh



Close Ads
Wawancara Khusus Wakil Presiden Jusuf Kalla (1): Jaga Stabilitas Ekonomi di Level Baru