alexametrics

Atasi Gizi Buruk, Kualitas Pasar Tradisional Perlu Ditingkatkan

22 Oktober 2018, 18:01:04 WIB

JawaPos.com – Kesejahteraan pangan dan ketahanan pangan Indonesia menjadi isu yang harus digalakkan. Alasannya, hal tersebut akan berdampak pada kecukupan gizi dan nutrisi masyarakat Indonesia.

Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Muhammad Maulana mengatakan salah satu kendala pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat yaitu ketersediaan pasokan bahan pokok di pasar tradisional. Sebab, 68 persen bahan pokok yang dikonsumsi dibeli di pasar tradisional.

“Pentingnya peran pasar tradisional dalam isu ketahanan pangan. Keterjangkauan pangan adalah salah satu hal yang vital,” ujarnya di Kebayoran Jakarta, Senin (22/10).

Dengan demikian, menurut Maulana, kualitas dan kebersihan pasar tradisional perlu ditingkatkan sehingga dapat menciptakan rasa nyaman baik para pembeli maupun pedagang.

“Kita harus sadar dengan pasar tradisional karena denyut nadinya ekonomi nasional. Kita mau Indonesia selain terkenal dengan kebudayaan dan alam tapi pasar tradisional. Karena banyak dan khas pasar tradisionalnya. Negara maju seperti Inggris selalu mempublikasikan pasar tradisional aja. Ngga hanya negara berkembang tapi negara maju bangga dengan pasar tradisionalnya,” katanya.

Maulana menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kenaikan harga komoditas yang dijual di pasar tradisional. Di antaranya iklim, ketersediaan komoditas, dan minimnya literasi keuangan di kalangan pedagang.

“Iklim sudah pasti berkaitan dengan cuaca yang akan mempengaruhi masa panen. Lalu, Ketersediaan komoditas di dekat konsumsi dan dukungan optimal sangat berpengaruh,” imbuhnya.

Ketiga, faktor yang tak kalah besar pengaruhnya yaitu minimnya literasi keuangan di kalangan pedagang. Hal ini membuat para pedagang harus terpaksa meminjam ke renternir dengan harga bunga yang sangat tinggi.

“Itu juga mempengaruhi harga jual barang,” tegasnya.

Maulana menambahkan banyak terjadi miskoordinasi dalam memperbaiki kesejahteraan pangan Indonesia. Salah satunya, kurangnya sinergi antar lintas sektor kementerian atau lembaga.

“Pangan itu kan berkaitan dengan logistik, jadi bukan hanya tugas Kementerian Perdagangan tapi juga Kementerian Perhubungan,” tandasnya.

Selain itu, lanjutnya, faktor kesediaan pasokan juga terjadi di lembaga seperti Bulog. Jika pedagang ingin membeli beras langusng ke Bulog harus ada minimal satu kontainer atau 28 ton.

“Itu yang menyebabkan harga di pasar tradisional jauh lebih mahal dibandingkan pasar ritel modern,” pungkasnya.

Editor : Saugi Riyandi

Reporter : (mys/JPC)


Close Ads
Atasi Gizi Buruk, Kualitas Pasar Tradisional Perlu Ditingkatkan