alexametrics

Fintech Makin Menjamur, Dorong Tranformasi Perbankan Digital

22 September 2019, 12:17:38 WIB

JawaPos.com – Kompetisi di industri keuangan semakin ketat. Selain persaingan dengan sesama pemain di industri perbankan, ancaman lain datang dari layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) yang menjamur. Untuk itu, perbankan harus bisa memberikan layanan yang lebih cepat, terukur, tapi tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengingatkan para pelaku industri perbankan nasional untuk cepat menyesuaikan diri. Termasuk melakukan inovasi agar tidak tergilas oleh kehadiran fintech. Menurut Perry, langkah cepat dan adaptif industri perbankan nasional harus dilakukan, sebab perilaku bertransaksi masyarakat juga sudah mulai bergeser. Dari konvensional menuju digitalisasi.

Apalagi, tutur Perry, perkembangan digital semakin masif seiring dengan pengguna smartphone yang kian banyak. Dalam Konteks itulah, Bank Indonesia dalam visi pembayaran Indonesia 2025, mendukung digitalisasi perbankan sebagai lembaga utama dalam ekonomi. Diperkuat dengan apa yang disampaikan Direktur Pengawasan Bank 2 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Adhief Razali. Katanya, digitalisasi pelayanan perbankan di Indonesia sebenarnya agak terlambat dibanding dengan layanan keuangan berbasis teknologi atau fintech yang sudah menjamur dalam dua tahun belakangan.

Adhief menambahkan, saat ini nasabah membutuhkan pelayanan yang serba cepat dan mudah. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui pelayanan digital banking. “Hanya saja, perbankan tetap menjamin keamanan, kerahasiaan, dan integritas dalam melayani nasabah,” ujarnya.

Menurut catatan OJK, pada akhir 2018 sedikitnya 80 bank dari 114 bank di Indonesia yang mencoba memberikan pelayanan digital banking. Oleh sebab itu, OJK menyarankan agar bank dalam negeri bisa meniru Singapura dan Hongkong yang sudah banyak menjalankan digital banking.

Direktur in-charge Astra Finance, Suparno Djasmin sepakat dengan apa yang disampaikan Perry Warjiyo dan Adhief Razali. Digitalisasi sudah dilakukan lewat Permata Bank yang merupakan anak perusahaan PT Astra International Tbk lewat Permata App. Berbagai fitur ditambah, dan dia mengklaim layanan digital banking PermataBank terbanyak diantara para pesaingnya.

“Bahkan, PermataBank menyematkan fitur yang belum dipunyai bank lain, seperti pendeteksian suara (voice detection) dan face id, “ ujar Suparno Djasmin di Jakarta, Jum’at (20/9).

Menjawab kebutuhan layanan yang serba cepat itu, Permata Bank meresmikan digital branch di Menara Astra yang mengintegrasikan teknologi dan sumber daya manusia (SDM) melalui Model Branch. Ini merupakan digital branch pertama milik PermataBank. “Kehadiran Model Branch ini bisa meningkatkan pelayanan yang lebih cepat dan baik lagi kepada para nasabah Permata Bank,” imbuh Suparno Djasmin.

Model Branch PermataBank tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman bagi nasabah termasuk secara offline dengan bantuan staf. Sedangkan bagi pelanggan yang ingin dilayani secara online, ada teknologi digital atau self-service. Konsep ini diyakini dapat memberikan konsistensi baik dalam hal penawaran produk dan layanan, look-and-feel (tampilan), desain, maupun teknologi yang keseluruhannya memberikan pengalaman yang memuaskan dan terintegrasi bagi nasabah, tambahnya.

Direktur Utama PermataBank Ridha DM Wirakusumah mengatakan, pembukaan Model Branch itu merupakan salah satu wujud dari digital roadmap Permata Bank. Model Branch diklaim merupakan yang pertama di perbankan. ‘Kami punya komitmen untuk melayani nasabah dengan prinsip simple, fast, dan reliable dalam menghadirkan teknologi digital untuk menjawab kebutuhan perbankan masa kini,” paparnya.

Hasilnya positif, ada peningkatan produktivitas dan kapasitas Permata Bank. Jika pada 2016, volume transaksi tercatat sebesar 157 juta kali, maka pada 2019 melonjak menjadi 288 juta kali atau naik 83 persen. Sebagian besar terjadi pada transaksi digital. Jika dua tahun lalu transaksi digital tercatat sebanyak 81 persen maka tahun ini sudah meningkat menjadi 95 persen.

Direktur Teknologi dan Operasional Permata Bank Abdy Salimin menjelaskan, kehadiran digital banking PermataBank juga mendongkrak produktivitas unit transaksi. Jika pada 2016 produktivitas unit transaksi  di Permata Bank tercatat 100 ribu, maka pada 2019 meningkat menjadi 193.000 atau naik 87 persen. ”Efisiensi transaksi juga menurun. Jika dua tahun lalu efisiensi transaksi tercatat sebesar Rp 1.817 per transaksi, tahun ini sudah turun ke kisaran Rp 1.070 per transaksi atau berkurang 41 persen,” bebernya.

Jumlah rekening baru pada 2016 tercatat 1,6 juta, Abdy mengatakan pada Agustus 2019 tercatat sebanyak 7,6 juta atau bertambah 22 persen. “Semua ini tidak akan tercapai kalau kita hanya menbuka kantor cabang saja dan tidak mengembangkan digital banking. Setelah kita kembangkan digital banking, satu tahun rata-rata tercatat 28 juta nasabah yang memakai MobileX Permata Bank,”ujarnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Agus Wirawan



Close Ads