alexametrics

Perang Dagang Masih Jadi ‘Biang Kerok’ Buat Ekonomi RI

22 Maret 2019, 15:50:48 WIB

JawaPos.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan suku bunga acuan dari Bank Sentral AS, The Fed, bukan jadi faktor eksternal yang mengganggu perekonomian Indonesia. Menurutnya, perang dagang justru masih menjadi biang keroknya.

“Karena yang pertama, dua negara itu tujuan ekspor terbesar kita. Jadi, kalau dia mengalami kerugian dua-duanya, ya berikutnya kita juga ikut rugi,” ujarnya di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (22/3)

Darmin menjelaskan, perseteruan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok seharusnya melunak pada Maret ini. Sayang, dua negara yang merupakan raksasa ekonomi dunia itu belum menunjukkan sinyal-sinyal positif.

“Belum ada posisi jelas, ya tidak maju dan tidak mundur. Ya kita lihat saja. Karena yang pasti dua-duanya merugi. Meski sama sama terpengaruh ke pertumbuhan ekonominya, Tiongkok lebih terkena dampaknya. penurunan pertumbuhan Tiongkok lebih banyak walau Amerika juga (turun),” tuturnya.

Untuk itu, mantan Gubernur Bank Indonesia ini mengingatkan semua pihak agar tetap waspada terhadap dampak perang dagang. Dia memperkirakan jika perseteruan ini bakal membutuhkan waktu untuk bisa melunak. 

“Yang sekarang masalahnya selalu dengan perang dagang. sekali dimulai, menghentikannya juga tidak mudah. Mari kita lihat, perang dagang ini dampaknya lebih besar untuk kita,” ungkapnya.

Selain itu, Darmin juga menyinggung perihal langkah The Fed yang tidak menaikkan suku bunga acuannya. Darmin berpendapat, langkah itu dilakukan The Fed lantaran perekonomian negaranya tidak menunjukkan sinyal positif.

“Kalau dia (The Fed) tidak menaikkan, ya itu sederhana saja. Dia tidak melihat ekonomi dalam situasi baik. Situasinya masih tetap tidak positif karena market secara global tidak mempersepsikan bahwa akan ada pengaruh terhadap arus modal, dan lain-lain. Sehingga, dia tidak menaikannya itu,” pungkasnya.

Editor : Saugi Riyandi

Reporter : Hana Adi

Perang Dagang Masih Jadi 'Biang Kerok' Buat Ekonomi RI