alexametrics
Arief Susanto Dkk, Owner Dus Duk Duk

Furnitur Ratusan Juta dari Kardus Kiloan

21 Agustus 2017, 19:28:44 WIB

JawaPos.com – Bagi sebagian orang, kardus mungkin hanya berakhir di tempat sampah. Namun, bagi Arief Susanto dan tiga kawannya, kardus bisa menjadi aneka furnitur artistik yang bernilai tinggi.

Arief mulai melirik kardus ketika mendapat tugas mata kuliah desain dasar dari dosennya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Ketika itu, 2011, Arief masih duduk di semester II Jurusan Desain Produk ITS.

Dia dan tiga kawan kuliahnya diminta untuk membuat produk dari eksplorasi bermacam-macam material, termasuk kardus. Dari hasil utak-atik, mereka menemukan bahwa kertas tebal itu ternyata bisa diperkuat sehingga dapat dijadikan material furnitur.

Furnitur Ratusan Juta dari Kardus Kiloan
BEDA: Salah satu hasil karya Dus Duk Duk. (FRIZAL/JAWA POS)

Karena itu, mereka memutuskan untuk membuat kursi anak-anak dengan bahan utama kardus. Dari awalnya hanya dua kursi dan satu meja dari kardus, mereka lantas berhasil mengembangkannya menjadi beragam produk. Namun, kursi kardus (untuk diduduki) menjadi inspirasi nama produknya, Dus Duk Duk.

Pada 2013, Arief dan teman-temannya menjadikan tugas kuliah tersebut sebagai usaha. Arief menjadi CEO dan Angger Diri Wiranata kini mengurusi marketing. Adapun produksi dikendalikan Octiana Dwi Anggara. Bisnis Dus Duk Duk juga terus berkembang dan kini telah memiliki lima karyawan. ”Kalau sama freelance, bisa nambah 7–10 orang. Bergantung project-nya,” kata pria 26 tahun itu.

Semua produk Dus Duk Duk hanya menggunakan kardus. Sistemnya bongkar pasang (knock down). Tujuannya, produk ringan, mudah dibawa, tapi tetap kuat. Bahan baku kardus diperoleh dari supplier di Mojokerto. Mereka membeli secara kiloan. Sekali beli bisa sekuintal kardus bekas.

Sebagian besar customer Dus Duk Duk menyukai furnitur yang berupa meja dan kursi. Meski demikian, Dus Duk Duk mengembangkan beragam barang dari kardus, mulai dekorasi, photobooth, hingga home décor. ”Alhamdulillah, setiap bulan pasti ada permintaan,” terang Arief.

Selain material kardus, salah satu keunggulan Dus Duk Duk, pelanggan bisa memesan desain furnitur yang diinginkan. Tak ada batasan desain. ”Material kardus sangat jarang dieksplorasi orang. Sehingga ketika orang melihat produk kami, tingkat interesting-nya itu antara percaya dan tidak percaya. Itu yang terus memacu Dus Duk Duk untuk terus menggali kreativitas,” jelasnya.

Mulai tahun ini Dus Duk Duk mengklasifikasikan produknya ke tiga kelas. Pertama, custom design seperti dekorasi, home decor, dan photo booth. Kedua adalah produk ready. Kelas itu menargetkan konsumen di toko-toko furnitur dan home decor. Yang ketiga adalah packaging. ”Kami bisa membuat packaging yang unik untuk produk-produk klien kami,” papar Arief.

Karena materialnya murah, furnitur buatan Dus Duk Duk bisa dibanderol dengan harga miring, mulai Rp 375 ribu. Namun, Arief mengakui bahwa harga produknya sebenarnya bergantung project. Untuk kelas custom design, harga bergantung kesulitan pengerjaan.

”Omzet Dus Duk Duk rata-rata dalam sebulan bisa mencapai Rp 15 juta. Namun, untuk project besar seperti custom design, harganya bisa sampai ratusan juta (rupiah, Red),” ungkapnya.

Untuk pemasaran, Dus Duk Duk masih mengandalkan media sosial. Mereka juga rajin mengikuti pameran-pameran. Mayoritas pembeli produk Dus Duk Duk berasal dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
”Sampai sekarang masih fokus menggarap pasar Indonesia dulu. Namun, produk kami beberapa kali dikirim ke Italia, Australia, terakhir ke Las Vegas,” tutur Arief. (*)

Editor : Dwi Shintia

Reporter : car/c11/noe

Furnitur Ratusan Juta dari Kardus Kiloan