JawaPos Radar

Bila Shutdown AS Berlangsung Lama, Ini Dampaknya ke Ekonomi Indonesia

21/01/2018, 11:59 WIB | Editor: Mochamad Nur
Bila Shutdown AS Berlangsung Lama, Ini Dampaknya ke Ekonomi Indonesia
Ekonom Indef Bhima Yudhistira (Dok.JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Pengamat Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira angkat bicara dari shutdown atau penghentian sementara operasional Pemerintahan di Amerika Serikat (AS).

Menurut Bhima, shutdown merupakan konsekuensi dari ketidaksepakatan antara Presiden AS, Donald Trump dengan Kongres dalam penyusunan anggaran Negara khususnya terkait pembiayaan.

“Bagi Indonesia dampak terjadinya shutdown secara temporer sangat minim ke nilai tukar rupiah,” katanya, Minggu (21/01).

Ia menjelaskan, ketika shutdown terjadi, nilai tukar rupiah masih berada dalam rentang yang terkendali, yakni di kisaran Rp 13.350 sampai Rp 13.400. ketika shutdown, dollar AS cenderung melemah dan menyebabkan prospek pemulihan ekonomi AS bisa terganggu.

Dalam posisi ini, mata uang Rupiah jutru akan diuntungkan dikarenakan Indeks Harga Saham Gabungan (ISHG) positif di angka 6.490-6.500 dan didorong oleh sentimen investor dalam negeri terhadap prospek pemulihan ekonomi Indonesia.

“Menghadapi shutdown saat ini, cadangan devisa Indonesia masih cukup untuk stabilisasi kurs. Angka terakhir pada Desember 2017, cadangan devisa berada di posisi USD 130 miliar,” lanjutnya.

Namun, pengamat Indef ini memperkirakan bila shutdown berlangsung cukup lama, maka kinerja perdagangan Indonesia ke AS bisa terganggu. Dampaknya, bisa berlanjut pada penurunan kinerja ekspor Indonesia.

Berdasarkan data BPS tahun 2017, porsi ekspor Indonesia ke AS mencapai 11,2 persen dari total ekspor atau senilai USD 17,1 miliar. Bhima berpendapat, pemerintah perlu mempersiapkan mitigasi resiko dengan memperluas pasar ekspor ke negara alternatif sehingga ketergantungan terhadap AS berkurang.

Sementara realisasi investasi AS di Indonesia berada di peringkat ke-4 dengan nilai sebesar USD 1,53 miliar, naik dari posisi tahun sebelumnya di level USD 1,1 miliar.

(sab/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up