alexametrics

Tarif Turun, Maskapai Bisa Kurangi Flight

18 Mei 2019, 13:09:32 WIB

JawaPos.com – Maskapai harus memutar otak agar bisnisnya tetap berjalan pasca penurunan tarif batas atas (TBA). Ketua Umum Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi khawatir masyarakat kembali menjadi korban atas kebijakan tersebut.

Menurut Tulus, upaya Kementerian Perhubungan untuk mendengarkan aspirasi publik agar tarif pesawat turun patut diapresiasi. “Namun, upaya menurunkan persentase TBA harus punya justifikasi yang jelas dan rasional, bukan berbasis tekanan masyarakat semata,” ucap Tulus kemarin (17/5). Yang harus diperhatikan selanjutnya adalah aspek perlindungan konsumen.

Dia menjelaskan, dalam UU Penerbangan pasal 127 ayat 2, yang dimaksud perlindungan konsumen adalah melindungi konsumen atas pemberlakuan tarif tinggi oleh badan usaha angkutan udara niaga. Selain itu, melindungi konsumen dari tarif mahal akibat persaingan tidak sehat dan informasi tarif yang menyesatkan konsumen.

“Tidak ada perintah secara tersurat dan atau tersirat bahwa aspek daya beli konsumen menjadi pertimbangan dalam menentukan TBA pesawat. Pertimbangan Menhub bahwa reformulasi TBA pesawat dalam rangka mempertimbangkan aspek daya beli masyarakat adalah hal yang absurd,” ungkapnya.

Tulus khawatir banyaknya anomali di balik kebijakan revisi TBA pesawat itu bisa berbuntut panjang. Apalagi jika nanti merugikan kepentingan publik. Misalnya, maskapai menutup rute-rute yang dianggap tidak menguntungkan. “Mungkin juga akan mengurangi jumlah penerbangan sekalipun untuk jalur-jalur gemuk,” ucap Tulus.

Suasana Counter Cek in Garuda Indonesia di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta, setelah Kemenhub menyatakan tarif tiket pesawat turun dan maskapai penerbangan nasional wajib menurunkan harga tiketnya untuk rute domestik. (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)

Dia menambahkan, penurunan TBA bisa mengancam keselamatan penerbangan karena bisa jadi maskapai akan mengurangi biaya perawatan.

Sejalan dengan Tulus, pengamat penerbangan Alvin Lie juga mengkhawatirkan maskapai menurunkan kualitas pelayanan dan kenyamanan. Hal itu dilakukan untuk menghemat biaya operasi. “Penurunan ini tidak terlalu terasa bagi konsumen, tapi terlalu berat bagi airlines,” tutur Alvin saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Menurut dia, kalau ingin harga tiket bisa turun, caranya dengan menaikkan acuan cost per seat per kilometer. Dengan begitu, TBA memang akan naik. Namun, airlines mampu meraih laba saat peak season dan bisa menurunkan harga ke level bawah saat low season.

“Subsidi silang menggunakan laba yang diraih saat peak season. Harga tiket bisa fleksibel lagi seperti dulu,” tuturnya.

Dengan TBA yang diturunkan, bisa jadi maskapai tetap menjual tiket pada kisaran batas atas sepanjang tahun. “Harga tiket malah jadi tidak fleksibel,” ungkapnya. Dia khawatir akan ada pemangkasan rute yang tidak memiliki banyak penumpang.

ILUSTRASI: Maskapai harus mulai memberlakukan tarif tiket baru untuk penerbangan domesik. (Muhamad Ali/Jawa Pos)

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham mengungkapkan, penerbangan pada rute-rute sepi memang merugikan airlines. Dia mencontohkan penerbangan ke Maumere yang selama ini mendapatkan subsidi dari Garuda. Rata-rata penerbangan ke tempat tersebut hanya mengangkut 30 sampai 40 orang. ”Setiap penerbangan disubsidi Rp 50 juta,” kata Pikri.

Namun, dia meyakinkan bahwa penurunan TBA tidak lantas menurunkan aspek keselamatan. Garuda Indonesia, lanjut Pikri, memilih memangkas biaya organisasi seperti pengurangan jumlah direksi dan komisaris. Serta, meningkatkan pendapatan lain. Misalnya, biaya pengangkutan kargo.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (lyn/c7/oni)



Close Ads