alexametrics

Dua Negara ASEAN Siap Investasi di KEK Maloy

17 Maret 2019, 19:19:58 WIB

JawaPos.com – Peresmian Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK) di Sangkulirang, Kutai Timur (Kutim) molor. Padahal, sejumlah investor disebut sudah siap membangun bisnis di kawasan tersebut. Tak hanya dalam negeri, tapi juga investor dari luar negeri.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Kutim Irawansyah menyebut, sudah ada investor yang ingin berinvestasi di KEK MBTK. Bahkan, sudah ada lima perusahaan yang diketahui mengurus perizinan di kawasan seluas 1.000 hektare tersebut.

“Ada perusahaan sawit. Ada juga perusahaan industri lain,” ujarnya dikutip Kaltim Post, Jumat (16/3).

Namun, Irawansyah belum bisa menyebutkan nama-nama perusahaan yang dimaksud. Dengan alasan, data-data terkait belum dia kantongi. Namun demikian, dalam beberapa tahun ke depan akan ada belasan perusahaan yang ditarget pemkab beroperasi di KEK MBTK.

“Pada saat Pak Awang Faroek Ishak menjabat gubernur Kaltim, memang ada banyak perusahaan yang diharapkan beroperasi di Maloy. Khususnya yang ada di Kutim tentu wajib membangun di Maloy,” tuturnya.

Diketahui, dalam beberapa bulan terakhir sudah terdapat beberapa investor asing yang mengajukan diri berinvestasi di KEK MBTK. Di antaranya investor dari Malaysia dan Brunei Darussalam. “Kedua negara itu menawarkan kerja sama. Tinggal kami siapkan apa yang mereka perlukan di sana (KEK MBTK),” jelasnya.

Di luar pengembangan bisnis pengolahan minyak kepala sawit atau crude palm oil (CPO), beberapa dari investor asing itu juga menawarkan kerja sama di bidang lain. Seperti di sektor perikanan, peternakan, dan pengembangan kawasan wisata. “Saya kira itu cukup bagus. Karena sejalan dengan keberadaan KEK MBTK,” ujarnya.

Irawansyah meyakini bila KEK MBTK telah beroperasi, maka ada banyak manfaat yang didapatkan Pemprov Kaltim dan Pemkab Kutim. Baik dari sisi pertumbuhan ekonomi maupun di sektor perpajakan.

“Berapa PDRB (produk domestik regional bruto) yang dihasilkan nantinya, kami belum menghitung itu. Tapi insyaallah, kalau Maloy sudah beroperasi, maka ekonomi di Kutim dan Kaltim pasti akan meningkat pesat,” jelasnya.

Pengelolaan pajak di KEK MBTK akan ditangani Badan Administrator. Badan tersebut nantinya diisi oleh pejabat setingkat eselon II dan bekerja di bawah Pemkab Kutim. Saat ini, lembaga itu masih bergabung dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim. “Badan itu tinggal menunggu pengesahan raperda (rancangan peraturan daerah) dari DPRD,” sebutnya.

Beberapa sarana dan prasarana (sapras) di KEK MBTK telah disiapkan pemerintah. Mulai sarana kesehatan, pemadam kebakaran, sampah, hingga perkantoran sebagaimana yang disyaratkan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). “Untuk IPA (instalasi pengolahan air) dalam proses pembangunan,” ucapnya.

Bila bercermin dari kesiapan sapras di KEK MBTK, seharusnya peresmian kawasan tersebut sudah dapat dilaksanakan pemerintah pusat. Dengan demikian, kegiatan pembangunan lebih lanjut di kawasan itu dapat dilakukan para pengusaha.

“Apa yang jadi persyaratan pemerintah pusat, semua sudah kami siapkan. Tinggal menunggu saja lagi kapan peresmiannya,” kata Irawansyah.

Peresmian KEK MBTK sendiri telah cukup lama diusulkan Pemkab Kaltim. Usulan itu dilayangkan dari Agustus dan September 2018. Namun, urung dilakukan dengan alasan kesibukan Presiden Joko Widodo.

“Terus diusulkan lagi pada 20 Februari 2019. Tapi mundur. Kemudian pada 12 Maret 2019. Tapi kembali diundur. Sekarang diusulkan lagi pada 28 Maret 2019. Mudah-mudahan sudah tidak ada perubahan lagi. Itu informasi yang disampaikan Pak Gubernur Kaltim (Isran Noor),” tuturnya.

Perlu diketahui, pembangunan KEK MBTK telah menelan investasi sebesar Rp 2,05 triliun sejak 2011-2018. Anggaran itu bersumber dari APBD sekitar Rp 846,6 miliar dan APBN sebesar Rp 1,2 triliun. Megaproyek nasional itu dibangun di atas lahan seluas 1.000 hektare dan 518 hektare di antaranya telah dibebaskan pemerintah.

Editor : Saugi Riyandi

Dua Negara ASEAN Siap Investasi di KEK Maloy