alexametrics

CPO dan Karet Bisa Jadi Produk Unggulan ke Negara Tujuan Ekspor Baru

15 Mei 2019, 08:22:34 WIB

JawaPos.com – Langkah Kementerian Perdagangan meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi dengan Argentina dinilai tepat di tengah persaingan perdagangan antar negara yang semakin ketat. Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal menilai Argentina merupakan hub atau pintu penting di Amerika Selatan setelah Brazil. Penjajakan counter trade dengan pola barter, diyakini mendongkrak neraca perdagangan.

“Berdasarkan kajian yang pernah LPEM UI lakukan, pemetaan non-tradisional partner untuk wilayah Amerika Latin selain Brazil itu ada Chili, Peru, dan Argentina. Jadi saya rasa itu sudah ya,” ujar Fithra kepada wartawan di Jakarta, Selasa (14/5).

Menurut Fithra, perang dagang yang masih terjadi membuat Indonesia harus segera mencari negara tujuan ekspor non-tradisional.

Sebagaimana diketahui, usai melangsungkan kunjungan ke Eropa pada 8-11 Mei lalu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melanjutkan kunjungan kerja ke dua negara Amerika Latin, yakni Cile dan Argentina.

Menteri Enggar menyebutkan Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dengan negara-negara Amerika Selatan. Hal ini mengingat kebutuhan yang semakin mendesak untuk mendiversifikasi pasar ekspor di tengah prediksi bahwa perekonomian dunia maupun perdagangan internasional akan terus mengalami pelemahan tahun ini.

Menurutnya, kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Argentina akan memiliki nilai geostrategis yang penting. Indonesia dapat memanfaatkan Argentina sebagai regional hub memasuki pasar sekitar lainnya di kawasan Amerika Latin. Demikian pula Argentina dapat memanfaatkan Indonesia untuk memasuki pasar ASEAN, pasar mitra FTA ASEAN.

Menurut Enggar, perekonomian kedua negara bersifat komplementer namun sejauh ini kurang banyak digali seperti dengan negara-negara di kawasan Asia dan Eropa. Pemerintah terus menjajaki sejumlah pola counter trade dengan sejumlah negara. Enggar menilai pola ini sebagai langkah tepat guna memangkas defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Argentina.

Data Kementerian Perdagangan mencatat total perdagangan Indonesia-Argentina mencapai USD1,67 miliar. Dari total perdagangan tersebut, Indonesia membukukan defisit perdagangan hingga USD 1,2 miliar. Angka defisit ini melonjak dibandingkan defisit pada 2017 yang sebesar USD 891,22 juta.

Sejalan dengan perlambatan ekonomi dunia, terdapat potensi over supply produk di Argentina. Hal yang sama juga dialami Indonesia, di mana beberapa komoditas mengalami penurunan ekspor.Engar menyebut barang yang bisa di barter dengan Argntina seperti karet, CPO, automotive dan spare parts, juga spare parts pesawat CN235.

Terkait dengan rencana barter komoditas dengan Argentina, menurut Fithra, sangat tepat bila Indonesia bisa menawarkan komodita karet dan CPO.

Menurutnya, tak hanya terpukul oleh perang dagang, nontariff measure (NTM) untuk dua komoditas itu juga makin gencar diberlakukan negara-negara tujuan ekspor tradisional seperti Eropa dan negara maju lainnya.

Bila bisa direaliasikan, menurut Fithra, secara tidak langsung dapat menjadi alternatif mengoptimalkan produk karet dan CPO Indonesia yang melimpah.

“Kita berharap pengembangan pasar baru seperti ke Argentina bisa menghasilkan sebuah perjanjian yang konkret sebagai langkah first mover advantaged,” kata Fithra.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Igman Ibrahim



Close Ads