JawaPos Radar

Faisal Basri: Holding BUMN Terlalu Dipaksakan

14/12/2017, 02:40 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Ekonom Faisal Basri
Ekonom Faisal Basri (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Ekonom Faisal Basri menilai holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih belum efektif. Sebab, tak ada nilai tambah yang didapat pemerintah dari holding tersebut.

Dia mencontohkan, induk BUMN tambang yaitu PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) tidak memiliki konsesi tambang. Selain itu, struktur bahan bakunya juga berbeda di antara empat BUMN tambang tersebut.

"Jadi, terlalu dipaksakan," ujarnya di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (13/12).

Sedangkan holding migas, katanya, perlu cara yang lebih cocok untuk masing-masing industri. Induk holding seharusnya adalah yang paling senior, besar dan bagus.

Menurutnya, Pertamina perlu meninjau kembali untuk menjadi induk holding karena banyak tantangan besar. Tantangan pertama adalah merumahtanggakan gas. Kedua, mengurangi elpiji yang diimpor.

"Bila PGN dan Saka jadi anak perusahaan Pertamina, bila dilihat utang Pertamina menjadi semakin banyak, kemampuan utangnya menjadi banyak, peningkatan utangnya banyak, PGN-nya jadi turun. Jadi apa urgensinya," tegasnya.

Lebih lanjut, dia menambahkan jika Pertamina tidak go public, maka akses keuangannya menurun. Walapun, ke depannya Pertamina memiliki kemampuan berutang yang tinggi akibat holding ini. Apalagi, kata Faisal, harga minyak tengah alami penurunan. Selain itu, industri hulu migas juga sedang anjlok.

(sab/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up