alexametrics
Penawaran Saham Perdana Bali United

Untuk Modal Kerja, Beli Pemain, dan Infrastruktur

12 Juni 2019, 14:15:33 WIB

JawaPos.com – Bungah benar CEO Bali United Yabes Tanuri. Penawaran saham perdana PT Bali Bintang Sejahtera Tbk yang dilakukan di Bali ternyata mendapat respons positif dari suporter dan warga Pulau Dewata itu.

Kemarin (11/6) mereka datang berkelompok ke Inna Heritage, Denpasar, tempat dihelatnya penawaran saham perdana perusahaan pengelola klub Liga 1 Bali United itu. Menurut Yabes, initial public offering (IPO) tersebut memang sengaja dilakukan di Bali, bukan Jakarta, dengan tujuan suporter dan warga setempat bisa jadi bagian dari klub berjuluk Serdadu Tridatu itu.

“Saya cukup senang saham Bali United diminati semua kalangan. Kami juga membutuhkan dana untuk modal kerja, pembelian pemain, dan infrastruktur,” ungkap Yabes seperti dilansir Jawa Pos Radar Bali.

Per lembar saham Bali United dijual Rp 175. Minimum pembelian per 1 lot (100 lembar saham) atau Rp 17.500. Yang dilepas ke publik, berdasar rapat umum pemegang saham (RUPS), 1 persen dari 350 miliar lembar saham. Atau 35 miliar lembar saham.

Namun, menurut Yabes, tidak mungkin dalam tiga hari penjualan, semua saham yang ditawarkan tersebut bisa terjual. Karena itu, pihaknya hanya menargetkan penjualan 20 juta lembar saham dalam kurun waktu tersebut.

“Menurut saya, tiga hari ini akan oversubscribe, artinya 20 juta lembar saham bisa tercapai,” terangnya.

Suporter dan masyarakat pemegang saham kelak, kata Yabes, bisa ikut RUPS. Bertemu stakeholder, komisaris, hingga bisa mengajukan pertanyaan atau harapan terkait keinginan musim depan di Bali United.

“Nanti dana yang didapat untuk pengembangan infrastruktur, pembelian aset, dan modal kerja. Jadi, sama-sama memiliki Bali United,” tegasnya.

Salah satu pengembangan infrastruktur yang dimaksud adalah renovasi Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, yang sudah disewa Bali United hingga 2023. Menurut Yabes, pihaknya berencana menambah kapasitas stadion tersebut.

Bali United jadi klub pertama yang menjual sahamnya ke publik. Mungkin langkah tersebut akan diikuti klub Liga 1 lainnya, Persija Jakarta. “Saat ini masih proses tahapan audit. Nanti kalau sudah selesai dilakukan registrasi ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan),” papar CEO Persija Ferry Paulus kepada Jawa Pos kemarin.

Sebenarnya, lanjut Ferry, registrasi pendahuluan ke OJK sudah dilakukan pada Maret. Tapi, karena masih menunggu audit, pihaknya tidak bisa melakukan registrasi langsung untuk IPO. ”Targetnya nanti pada bulan September kami mulai public expose-nya,” katanya.

Rencana untuk melantai di bursa saham juga pernah diungkapkan CEO PSIM Jogjakarta Bambang Susanto. Sejak ditunjuk sebagai karteker CEO, dia melihat bahwa Laskar Mataram yang kini berada di Liga 2 punya potensi untuk jadi klub profesional dengan pengelolaan keuangan yang sehat. ”Saya sedih melihat PSIM dari dulu gali lubang tutup lubang. PSIM harus dikelola dengan profesionalisme yang tinggi, roda klub yang pro­fesional dan bisnis harus berjalan beriringan,” paparnya.

Berbekal pengalaman 30 tahun di dunia pasar modal, dia melihat PSIM bukan hanya sebuah klub sepak bola, melainkan juga bisa masuk ke lantai saham. “Kemudian, memberi kesempatan untuk menarik investor lain dan para sponsor. Klub ini besar sekali potensinya,” ungkapnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (rid/lit/yay/c10/ttg)