alexametrics
Kisruh Tiket Pesawat Mahal

Tekan Biaya Operasional Pesawat, Maskapai Asing Tak Jamin Tiket Murah

12 Juni 2019, 11:12:48 WIB

JawaPos.com – Mahalnya tiket penerbangan masih menjadi isu krusial. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia  (Hipmi) menilai ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan pemerintah supaya maskapai penerbangan  nasional bisa survive di pasar transportasi udara.

Ketua Badan Pengurus Pusat (BPP) Hipmi Bagas Adhadirgha menyebutkan, Indonesia adalah satu-satunya  negara yang menerapkan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap avtur. Komponen avtur itu disebut  sangat memengaruhi biaya operasional airlines. ”Biaya operasional akan berpengaruh pada harga tiket  transportasi udara,” ujar Bagas seperti dikutip Jawa Pos, Rabu (12/6).

Pria yang juga menjabat CEO Asia Aero Technology itu menambahkan, harga tiket juga dipengaruhi unsur  eksternal seperti perpajakan dan biaya fasilitas bandara. ’’Solusinya, komponen penunjang  transportasi udara seperti spare parts dan avtur dibebaskan dari biaya pajak. Ambil pajaknya nanti di  komponen tiket sehingga tidak terjadi dobel pajak. Dengan begitu, biaya operasional akan terpangkas,”  bebernya.

Menurut Bagas, tiket pesawat mahal pasti akan memengaruhi pariwisata domestik meski tak menjadi  faktor utama naik turunnya wisatawan. ”Selama ini tiket pesawat udara hanya menyumbang 10 persen dari  total pemasukan pariwisata,” urainya.

Pemerintah sempat mencuatkan wacana akan membuka kompetisi pasar penerbangan Indonesia untuk maskapai  asing. Namun, menurut pengamat, hal tersebut tak serta-merta bisa menyelesaikan masalah.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menganggap bahwa dibukanya pintu bagi maskapai asing di  Indonesia tidak menjamin harga tiket pesawat bisa terpangkas. ’’Tidak akan berikan solusi tarif bisa  murah. Operasional pesawat udara itu memang mahal. Kenapa pernah murah, karena maskapainya  menggunakan tarif promosi,’’ ujarnya.

Dia ragu maskapai asing mau melebarkan sayap bisnisnya ke dalam industri penerbangan di Indonesia.  Sebab, maskapai internasional seperti AirAsia saja tidak berkembang pesat di Indonesia. ’’Andaikan  menguntungkan, tanpa diminta pun, pasti asing akan masuk,’’ tandasnya.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : agf/c7/oki