alexametrics

Tiket Pesawat Mahal! Penumpang Menjerit, Usaha Pebisnis pun Terganjal

12 Januari 2019, 08:02:00 WIB

JawaPos.com – Musim liburan telah usai. Maskapai penerbangan bertahan pada tarif tiket ambang batas atas. Penumpang menjerit. Keluhan terhadap tingginya tarif tiket pesawat terbang bahkan dituangkan dengan membuat petisi melalui laman change.org. Iskandar Zulkarnain memulai petisi kepada Presiden Joko Widodo, Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Direktur Utama Garuda Indonesia, dan CEO Lion Air. Hingga pukul 23.00 Wita, 103.825 akun telah menandatangani petisi.

ANDI ADE AGSA-MUHCLIS ABDUH

Tiket Pesawat Mahal! Penumpang Menjerit, Usaha Pebisnis pun Terganjal
Ilustrasi pesawat tengah menunggu antrean pemberangkatan ke tujuan berikutnya setelah mendarat (DOK.JAWAPOS.COM)

Penelusuran melalui aplikasi traveloka.com dan tiket.com untuk penerbangan Sabtu, 12 Januari, tujuan Makassar-Denpasar, tarif tiket pesawat kelas ekonomi dalam rentang antara Rp950 ribu-Rp1.580.000 untuk sekali jalan.
Sementara penerbangan Makassar-Jakarta, antara Rp1.555.000- Rp2.428.400 sekali jalan.

Mahalnya harga tiket berdampak ke hampir semua sektor ekonomi. Maskapai diminta menurunkan harga agar performa ekonomi bisa bergerak.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pun mengeluhkannya. Usai fase liburan dan berakhirnya libur anak sekolah, merupakan momentum bagi para pelaku usaha untuk menggenjot performa.

“Mulai Januari hingga Maret, akan banyak perjalanan bisnis. Baik untuk kontrak, membuka order, juga menjalin kemitraan,” kata Ketua Apindo Makassar, Muammar Muhayang seperti dikutip Fajar (Jawa Pos Group), Sabtu (12/1).

Hanya saja upaya-upaya tersebut bakal tersandung. Biaya transportasi pesawat terbang tidak wajar. Sementara, tidak ada hal-hal yang luar biasa seperti sekarang.

“Musim liburan sudah lewat. Entah apa maksudnya maskapai mematok harga tinggi. Teman-teman banyak yang mengeluh. Pada rapat kemarin, harga tiket ini menjadi poin khusus pembahasan,” terangnya.

Saat bukan musim liburan, untuk perjalanan menggunakan Garuda Indonesia, misalnya, harga tiket yang kerap dipakai, berkisar Rp1,1 juta-Rp1,2 jutaan untuk rute Makassar-Jakarta.

“Sekarang malah naik 100 persen lebih. Itu sudah berkisar Rp2,6 juta hingga Rp2,8 juta. Batik Air yang biasanya di bawah Rp1 jutaan kini lebih dari itu,” keluhnya.

Menurutnya, saat ini harga minyak dunia telah turun. Bahkan Pertamina telah menurunkan harga BBM nonsubsidinya. Belum lagi nilai tukar yang masih stabil dan cenderung menguat akhir-akhir ini. Muammar Muhayang pun dibuat bingung oleh alasan maskapai menaikkan harga.

Bisnis Kritis

Sekretaris Realestate Indonesia (REI) Sulsel, Abdul Malik Ibrahim, mengaku, cukup intens bepergian ke luar kota. Dalam seminggu bisa sampai tiga kali.

“Dulu bisa begitu. Kalau kondisi sekarang, mungkin sudah agak susah. Yang betul-betul mendesak baru pergi,” jelasnya.

Sebab, untuk perjalanan bisnis dirinya sendiri atau banyak pengusaha lainnya, sudah pasti punya bujet sendiri terkait biaya perjalanan bisnis. Sebetulnya, penumpang tidak meminta tarif murah.

“Tetapi sajikan harga yang rasional. Apalagi musim liburan sudah lewat. Masa masih mahal. Koneksi bisnis di luar kota bisa terputus kalau maskapai seperti ini,” kata Malik dengan kesal.

Okupansi Menyusut

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Makasar, Kwandy Salim, menyatakan kenaikan tarif pesawat pasti sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan. Jika terjadi kenaikan, maka orang akan berpikir untuk bepergian dan hotel pun menjadi sepi pengunjung.

“Meskipun bukan faktor utama, kenaikan harga tiket akan berpengaruh. Dampak kenaikan tarif menurunkan kunjungan 20-25 persen,” paparnya.

Pada akhir 2018 dan awal 2019 ini, perhotelan mengalami masa-masa kritis. Apalagi, banyaknya bencana yang terjadi belakangan ini membuat orang takut bepergian.

Melihat sepinya kunjungan wisatawan ini, ia meminta agar pemerintah bisa memberikan perhatian. Misalnya, turun tangan untuk mendesak maskapai menurunkan tarif.

Ia curiga maskapai melakukan permainan harga dan mencari keuntungan sendiri. Alasannya, jika dilihat kenaikan harga tiket, itu hanya terjadi di Indonesia.

“Misalnya, seluruh maskapai di dunia menaikkan harga, artinya ini memang kondisi yang memaksa. Beda jika ternyata hanya di Indonesia harga naik,” paparnya

Pihaknya pun berharap, maskapai ikut memikirkan dampak ke sektor lainnya seperti ke perhotelan yang akan turun okupansinya.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : JPG

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Tiket Pesawat Mahal! Penumpang Menjerit, Usaha Pebisnis pun Terganjal