JawaPos Radar

Bos Barito Pacific Tambah Kepemilikan Saham Jadi 77,10 Persen

11/07/2018, 23:32 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Bos Barito Pacific Tambah Kepemilikan Saham Jadi 77,10 Persen
Barito Pacific (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Prajogo Pangestu, selaku pemegang saham utama PT Barito Pacific Tbk (BRPT), telah melakukan pembelian 22,9 juta saham dari publik yang meningkatkan kepemilikannya menjadi 77,10 persen. Dalam PUT II (rights issue) yang telah selesai pada Juni 2018, Prajogo Pangestu telah melaksanakan haknya sebesar Rp 7,4 triliun dan melakukan pemesanan tambahan sebesar Rp 1,4 triliun pada harga Rp 2.330 per saham yang meningkatkan kepemilikannya dari 71,2 persen menjadi 77 persen.

Terkait pelaksanaan rights issue, BRPT menggunakan hasil PUT II untuk mengakuisisi Star Energy. Sebagai produsen energi panas bumi terbesar di Indonesia dan kedua di dunia berdasarkan kapasitas produksi, Star Energy akan membantu diversifikasi pendapatan BRPT dengan arus kas kontraktual jangka panjang. Star Energy saat ini memiliki kapasitas 875 MW dan memiliki rencana untuk meningkatkan menjadi 1.200 MW dalam lima tahun ke depan.

Menurut Kepala Analis Narada Kapital Indonesia, Kiswoyo Adi Joe mengatakan, prospek bisnis BRPT akan meningkat pasca akuisisi Star Energy. Merujuk harga saham yang sangat murah. Dia melihat, aksi penambahan saham Prajogo di Barito merupakan kepedulian dan optimisme owner terhadap perusahaannya. Tentunya, hal itu akan menjadi sentimen positif bagi investor publik maupun ritel.

‎"Efeknya bagus, sebagai owner atau pemilik melihat harga saham BRPT saat ini sudah murah sekali. BRPT masih di bawah harga wajar, hal ini bisa menjadi menjadi sentimen positif bagi investor publik dan institusi untuk masuk,” ujarnya di Jakarta, Rabu (11/7).

Dengan begitu, katanya, investor tidak akan bingung lagi soal harga wajar BRPT di pasar saham Indonesia. "Ownernya saja berani, apalagi investornya. Investor sebelumnya bingung, karena orang tahu kan sebelum harga naik, pasti harus masuk. Jadi ini akan banyak masuk dari para investor," ucap Kiswoyo.

Jikalau dari hitungan yang ada, lanjut Kiswoyo, harga saham Barito akan makin meningkat pula. Dia memperkirakan, posisi harga saham Barito bisa mencapai Rp 3.000 per lembar saham.

Kenaikan harga saham Barito disebabkan bisnisnya tidak memiliki kompetitor. Sehingga, bisnis yang dijalankannya akan melenggang terus. Pada akhirnya berdampak baik bagi kinerja keuangan perseroan ke depannya.

"Kinerja BRPT utamanya ditopang oleh Chandra Asri atau TPIA dengan bisnis petrokimianya. Di sini kan kebutuhan petrokimia masih banyak dipenuhi impor. Di Indonesia hanya grup Barito satu-satunya perusahaan petrokimia yang terintegrasi dan terbesar di Indonesia. Ditambah lagi ada Star Energy, maka akan memberikan nilai tambah lebih bagi Barito," jelasnya.

Seperti diketahui, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, anak entitas BRPT yang merupakan satu-satunya perusahaan petrokimia terintegrasi dan terbesar di Indonesia, baru-baru ini telah menyelesaikan pemilihan teknologi untuk komplek petrochemical kedua dengan perkiraan investasi sekitar USD 4-5 miliar.

Komplek petrokimia kedua akan terdiri dari 1,1 MMTA ethylene dengan berbagai produk hilir, yang ditargetkan beroperasi pada awal tahun 2024. BRPT juga memiliki operasi greenfield sebagai produsen listrik independen melalui kerjasama dengan PT Indonesia Power untuk proyek pembangkit listrik PLTU Suralaya 9-10 Ultra Super Critical (2 x 1.000 MW) dengan total biaya proyek sebesar USD 3,1 Miliar. Proyek tersebut telah mengumumkan pemilihan EPC dan menargetkan financial closing pada kuartal I-2019.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up