alexametrics

Stok Bulog Tiga Kali Lipat, Begini Pendapat Jokowi soal Impor Beras

11 Januari 2019, 16:38:10 WIB

JawaPos.com – Pemerintah menjamin stok beras tercukupi dalam menghadapi masa tunggu panen raya yang berlangsung Maret mendatang. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, stok beras di sejumlah gudang Bulog sangat melimpah. Secara nasional, jumlahnya mencapai 2,1 juta ton.

Stok tersebut, lanjut dia, jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya pada waktu yang sama.

“Biasanya di akhir Desember itu 700 ribu, 800 ribu, tetapi di akhir Desember 2018 ini stok kita sekarang 2,1 juta. Stok yang besar,” kata Jokowi saat mengunjungi gudang Bulog di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, kemarin (10/1).

Stok Bulog Tiga Kali Lipat, Begini Pendapat Jokowi soal Impor Beras
Presiden Jokowi meninjau stok beras di gudang Bulog dan ditemani Dirut Bulog Budi Waseso. (Setpres)

Jokowi menganggap stok sebesar itu sebagai hal positif. Sebab, hal tersebut akan memberikan keyakinan kepada pasar dan masyarakat bahwa stok beras tercukupi. Imbasnya, spekulan tidak bisa mempermainkan harga.

“Kalau stok sedikit itu akan banyak spekulasi yang bermain-main dengan harga, ini kita tunjukkan stok memang ada dan banyak,” imbuhnya.

Karena itu, mantan gubernur DKI Jakarta tersebut juga meminta Bulog melakukan operasi pasar bila mendeteksi adanya kenaikan beras di sebuah wilayah. Selain menstabilkan harga, operasi pasar diperlukan untuk memastikan sirkulasi barang di gudang bisa dilakukan. Dengan demikian, barang lama bisa dikeluarkan dan beras yang baru dapat diserap pada masa panen raya Maret mendatang.

Meski demikian, semuanya harus tetap berdasarkan perhitungan. Jika terlalu banyak intervensi di pasar, harga bisa anjlok dan diprotes petani. “Jadi, keseimbangan harga produksi dan harga pasar harus dijaga oleh Bulog, tidak bisa terlalu murah karena petani akan menjerit,” tuturnya.

Disinggung mengenai swasembada beras menyusul masih terjadinya impor, Jokowi menyebut hal itu sebagai dinamika produksi. “Itu kan masalah produksi ya, produksi kalau tidak cukup harus ditutup dengan kegiatan impor. Kalau ndak, harganya pasti akan naik,” terangnya.

Sementara itu, dengan stok yang memadai tahun ini, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita optimistis bahwa harga komoditas beras pada tahun ini bakal terkendali. Stok beras juga diprediksi akan bertambah dengan adanya panen dan dukungan distribusi yang lebih lancar. “Bila suplai ada, distribusi oke, penimbunan tidak berjalan, maka stabilitas harga akan teratasi,” ujar Enggar.

Terkendalinya harga dan pasokan tahun ini, lanjut Mendag, juga didukung konektivitas infrastruktur yang jauh lebih baik. Mulai jalur darat, yakni melalui akses tol, hingga jalur laut lewat program tol laut. “Sejumlah infrastruktur itu akan dapat menekan biaya logistik pengiriman komoditas ke depan,” tambah Mendag.

Disinggung mengenai impor tahun lalu yang mencapai 2,2 juta ton, Enggar mengklaim bahwa keputusan impor datang dari rapat koordinasi yang membicarakan mengenai supply and demand. “Impor diputuskan oleh rakor. Rakor menteri koordinator dan berbicara mengenai supply dan demand. Itu saja. Rakor memutuskan, saya melaksanakan,” ujar Enggar.

Mengenai impor, Direktur Utama Bulog Budi Waseso atau yang akrab disapa Buwas cukup optimistis bahwa impor beras belum perlu dilakukan hingga Juni 2019. Prediksi tersebut berdasar pertimbangan stok Bulog yang masih tercatat sekitar 2,1 juta ton. “Insya Allah Juni tahun ini kita tidak impor beras. Kami sudah lihat data penyerapan beras dan sudah ada target,” ujar Buwas.

Bulog menargetkan, pada masa panen raya Februari-Juni 2019, dapat menyerap 1,8 juta ton beras petani. Karena itu, total stok yang dimiliki Bulog dapat mencapai lebih dari 3 juta ton beras. Sebanyak 1,7 juta di antara 2,1 juta ton beras yang dimiliki Bulog, menurut dia, merupakan beras impor dari tahun sebelumnya dan penyalurannya akan memprioritaskan beras dalam negeri.

“Kami akan utamakan dulu beras dalam negeri karena penyerapan pasarnya lebih mudah daripada impor,” tambahnya.

Dia menambahkan, Bulog, pemerintah, dan Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini sedang mensinkronkan data. Hal itu dilakukan agar data yang ada tidak berbeda-beda, antara Bulog, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan (Kemendag), dan BPS.

Sebelumnya, tahun lalu, sempat terjadi ketegangan antara Bulog yang mengklaim Indonesia tidak perlu mengimpor beras dan Kemendag yang justru melakukan impor karena stok beras dinilai tidak mencukupi. “Kalau ada permasalahan, kita bahas bareng-bareng, kira-kira kayak apa penanganannya, tindak lanjutnya. Jadi, enggak ada gaduh lagi nanti,” ucap Buwas.

Menurut dia, BPS sudah menyiapkan data berdasarkan pemetaan di lapangan mengenai produksi dan waktu panennya. Di sisi lain, pemerintah sedang memprediksi kebutuhan konsumsi beras masyarakat dan akan mencocokkan dengan data produksi dan pasokan beras. Dalam jangka panjang, pendataan itu tidak hanya akan diterapkan pada beras, tetapi juga pada komoditas lainnya. Contohnya jagung. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (far/agf/rin/c10/agm)

Stok Bulog Tiga Kali Lipat, Begini Pendapat Jokowi soal Impor Beras