alexametrics

Market Halal di Jepang Menjanjikan

10 Oktober 2019, 14:00:40 WIB

JawaPos.com – Kinerja perdagangan Jawa Timur (Jatim) dan Jepang selalu surplus. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) pada semester I tahun ini, nilai ekspor Jatim ke Negeri Sakura mencapai USD 1,9 juta atau setara Rp 26,9 miliar. Kabar baiknya, kinerja tersebut masih berpotensi tumbuh karena Jatim masih bisa menggarap pasar makanan halal di sana.

“Potensinya memang besar. Contohnya, sektor mamin (makanan dan minuman, Red). Sekitar 60 persen mamin Jepang diperoleh dari luar negeri,” kata Ketua Umum Indonesia Japan Business Network (IJB-Net) Suyoto Rais, Kamis (9/10).

Namun, agar bisa maksimal menggarap potensi tersebut, pengusaha harus paham benar dengan kebutuhan kuliner Jepang. Saat ini pasar makanan halal di negara berpenduduk sekitar 126, 3 juta itu sedang berkembang.

Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index 2017 melaporkan bahwa tren makanan halal terus meningkat di Jepang. Apalagi, tahun depan Tokyo akan menjadi tuan rumah Olimpiade dan akan banyak turis muslim yang berkunjung.

Tiap tahun tidak kurang dari satu juta wisatawan muslim melancong ke Jepang. Sementara itu, jumlah penduduk muslim di negara tersebut berkisar 150 ribu orang.

Belakangan, pemahaman warga terhadap makanan halal makin bagus. Mereka menyebut makanan halal sebagai makanan sehat. Artinya, bisa dikonsumsi siapa pun.

“Ini merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk menggarap potensi tersebut,” ucap Suyoto.

Tahun lalu, setelah beberapa kali mencoba dan gagal, produk olahan ayam Indonesia berhasil menembus pasar Jepang. “Akibatnya, banyak dibuka halal fried chicken dari tanah air di Nagoya,” katanya.

Dari Nagoya, ujar Sutoyo, ayam goreng halal ala Indonesia menyebar ke kota-kota lain dalam waktu dekat. Direktur Kadin Institute Jamhadi menuturkan, pemerintah perlu menempuh beberapa strategi untuk meningkatkan ekspor Jatim ke Jepang.

Misalnya, rutin menjalin kerja sama dagang, rajin promosi lewat trade expo, business forum, dan business matching. Juga, menyediakan kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri dengan pola sewa agar tidak memberatkan pelaku UKM.

“Yang terpenting lagi, impor bahan baku Jatim yang masih 70 persen harus dijadikan produk ekspor yang bisa berdaya saing global,” papar Jamhadi.

Menurut dia, selain Jepang, negara lain yang potensial menjadi tujuan ekspor Jatim adalah AS, Malaysia, dan Belanda.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (car/c5/hep)



Close Ads