JawaPos Radar

'Jangan Pernah Berpikiran Negatif Soal Rupiah'

10/09/2018, 17:27 WIB | Editor: Saugi Riyandi
'Jangan Pernah Berpikiran Negatif Soal Rupiah'
Rupiah masih tahan dari Dolar AS (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan bahwa penurunan Rupiah yang kini terjadi bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Karena alasan itu masyarakat juga dihimbau untuk tidak berpikir negatif sehingga memicu kepanikan pasar.

Kepala Departemen Internasional Kementerian Koordinator Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan pemerintah bersama pemangku kepentingan mau tidak mau memang harus siap menghadapi penurunan rupiah ini. Akan tetapi ini bukan merupakan hal yang baru dan tidak perlu ditakutkan.  

"Kalau waspada iya. Hanya ketakutan yang berlebihan itu tidak bagus. Saya banyak melakukan riset, bahwa kalau kita berpikiran negatif itu bisa mengakibatkan hal negatif. Contohnya, terjadinya krisis perbankan, walau sebenarnya bank-nya sehat. Cuma kalau nasabah berbondong-bondong tidak percaya, bisa bangkrutlah itu bank. Itulah sebabnya. jangan memberi informasi yang bisa membuat kita semua panik,” katanya dalam Forum Merdeka Barat (FMB) di Jakarta, Senin (10/9).

Iskandar pun kemudian mengajak publik melihat melihat kembali krisis pada 1997-1998 sampai periode saat ini. Secara historis hal ini bukan pertama kalinya neraca transaksi berjalan kita mengalami defisit. Pada 2013, curent account mengalami defisit minus 4,24 persen di triliwulan kedua. Hal Itu mengakibatkan neraca primer mengalami defisit besar.

Jadi, lanjutnya, masalah terjadinya defisit pada neraca transaksi berjalan juga bukanlah hal baru dan tidak perlu menciptakan ketakutan yang luar biasa besar. Dibanding tahun 2013 yang angka defisitnya mencapai minus 4,24 persen sedangkan defisit neraca berjalan tahun ini yang mencapai minus 3,04 persen bukanlah merupakan sebuah krisis.

“Karena ada arus modal masuk atau capital inflow, kondisi itu menjadi tidak masalah,” tuturnya.

Menurut Simorangkir saat ini yang harus diwaspadai adalah iklim global yang penuh ketidak kepastian. Situasi ini dikhawatirkan bisa memicu capital outflow terjadi. Fenomena ketidakpastian ini memang menjadi fenomena global. Ketidakpastian global memicu terjadinya krisis di Argentina.

"Dari awal Januari sampai Jumat, mata uang Argentina terdepresiasi 49,62 persen kalau Turki 40,7 persen depresiasinya. Coba bandingkan dengan kita, depresiasi hanya mines 8,5 persen," tegasnya.

Simorangkir menambahkan, kehawatiran berlebihan tidak diperlukan karena  funfamental ekonomi di dalam negeri masih sangat kuat. Hal ini diperlihatjan dengan tingkat inflasi yang masih rendah yakni 3,2 persen. Selain mewaspadai inflasi, pemerintah juga akan memperhatikan kondisi neraca perdagangan. 

Hal ini terkait sejumlah kebijakan pemerintah AS yang mencerak lebih dari 8 miliar dolar pada 2008.Yang mana, itu diikuti krbijakan penaikan tarif yang berdampak pada menurunnya perdagangan dunia.

“Akibat volume perdagangan dunia menurun ekspor kita melambat. Apalagi CPO,” katanya.

Untuk mendorong kepercayaan masyarakat pada Rupiah, Iskandar mengatakan, pemerintah menerbitkan tkebijakan kenaikan tarif pph impor. Pemerintah juga akan terus mendorong penggunanan komponen lokal untuk proyek-proyek infrastruktur untuk mengurangi beban impor. 

"Sejumlah kebijakan untuk mendorong ekspor juga telah diterbitkan, antara lain dengan sistem OSS dan pos border,” tegasnya.

Selain itu, katanya, pemerintah juga mendorong penguatan pariwisata. Pada 18 Agustus lalu, sambung dia, pemerintah sudah memutuskan memberikan KUR pariwisata kepada UMKM tarifnya 7 persen. 

“Saya yakin dengan bersama-sama dengan masyarakat, dengan pemberitaan yang seimbang, saya yakin masyarakat percaya ekonomi solid sehingga nilai tukar kita menjadi seimbang,” pungkasnya.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up