alexametrics

Inflasi Mei 2019 Sebesar 0,68%, Pemerintah Diminta Awasi Sektor Pangan

10 Juni 2019, 16:06:17 WIB

JawaPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,68 persen sepanjang Mei 2019. Sementara inflasi tahun kalender tercatat 1,48 persen dan sebesar 3,32 persen untuk inflasi tahunan. Kenaikan inflasi banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan.

Kepala BPS Suhariyanto menyampaikan, harga berbagai komoditas pada Mei 2019 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 82 kota, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran.

Di antaranya, kelompok bahan makanan sebesar 2,02 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0.56 persen dan baru diikuti oleh kelompok perumahan seperti air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,06 persen. Sedangkan kelompok tranpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,54 persen.

“Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Mei 2019 antara lain Cabai merah, daging ayam ras, bawang putih, ikan segar, tarif angkutan antar kota, telur ayam ras, kentang, tomat, tarif angkutan udara, tarif kereta api, ikan diawetkan dan lain-lain,” kata Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin (10/6).

Sementara itu, menurut Suhariyanto, kota yang mengalami inflasi tertinggi terjadi di Tual, Maluku dan inflasi terendah terjadi di Kediri dengan 0,05 persen. Di sisi lain, kata dia, hanya satu kota yang memberikan deflasi pada Mei 2019, yaitu Marauke sebesar 0,49 persen.

Dia mengatakan, besaran inflasi pada Mei 2019 dipengaruhi oleh momen Ramadan dan hari raya Idul Fitri 1440 H. Menurutnya, besaran angka inflasi itu masih dalam kategori terkendali.

“Target yang dipasang oleh pemerintah adalah 3,5 persen dengan memperhatikan target ini saya akan simpulkan bahwa inflasi Mei 2019 terkendali,” pungkasnya.

Sementara itu, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan, inflasi pada Mei 2019 dinilai relatif tinggi. Musababnya, pemerintah dinilai kurang melakukan langkah antisipasi lonjakan pangan.

Salah satunya contohnya, keterlambatan pemerintah melakukan kebijakan impor bawang putih. Itu membuat bawang putih menjadi salah satu bumbu dapur yang menyumbang inflasi cukup besar pada Mei 2019 yakni 0,05 persen.

“Jadi, ada persoalan pasokan bahan pangan bukan karena sisi permintaan naik signifikan. Inflasi inti hanya 0.27 persen disaat ramadhan lebih rendah dari Januari 0.3 persen. Demand belum pick up,” kata Bhima kepada JawaPos.com, Senin (10/6).

Kendati demikian, kata Bhima, angka inflasi tersebut masih di bawah target pemerintah sampai akhir tahun yang mencapai 3,5 persen. Namun, pemerintah harus segera mencermati faktor cuaca dan bencana alam yang bisa menggangu produksi dan distribusi pangan.

“Faktor harga tiket pesawat yang mahal juga jadi penyumbang inflasi yang konsisten. Tarif angkutan udara bulan Mei masih catat inflasi 0.02 persen,” pungkasnya.

Prediksinya, inflasi pada Juni 2019 akan jauh lebih tinggi dibandingkan Mei 2019. Sebab bulan tersebut merupakan momen puncak lebaran. Atas dasar itu, adanya kenaikan perputaran uang pada arus mudik 2019.

Selain itu, inflasi tarif angkutan pada Juni 2019 juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Mei 2019. Itulah kenapa, besaran inflasi pada bulan depan akan masih tertekan.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Igman Ibrahim



Close Ads