JawaPos Radar

Ganggu Serapan Tenaga Kerja dan Investasi, Go-Jek Serius Perangi Ofik

10/06/2018, 06:01 WIB | Editor: Mochamad Nur
Ganggu Serapan Tenaga Kerja dan Investasi, Go-Jek Serius Perangi Ofik
Ilustrasi mitra driver Go-Jek (Dok. Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com – Perusahaan transportasi berbasis aplikasi Go-Jek terus memerangi order fiktif (ofik) karena merupakan masalah serius. Penyedia platform multi layanan asal Indonesia ini menangani setiap pengaduan yang masuk dari mitra pengemudi atas tindakan curang tersebut.

"Pelayanan pelaporan kami respons dan tangani di bawah 1 jam," ungkap Director Corporate Affairs GO-JEK, Nila Marita dalam keterangannya, Sabtu (9/6).

Menurutnya, respons cepat yang dilakukan merupakan bagian dalam proses identifikasi, verifikasi, hingga pemberian sanksi. Ditegaskan, Go-Jek punya standar tata kelola tertinggi.

"Kami tidak sembarangan dalam menindak. Namun jika ada mitra yang terbukti melakukan kecurangan maka kami mengambil tindakan tegas dengan memberikan sanksi putus mitra," tegas Nila.

Bukti keseriusan Go-Jek memberantas tindak kecurangan seperti ofik adalah jatuhnya banyak sanksi kepada pihak yang tidak fair seperti itu. Hingga Juni, menurut Nila, perusahaan transportasi berbasis aplikasi milik anak negeri ini telah memberikan sanksi kepada ratusan ribu pelaku order fiktif, baik pengemudi maupun customer.

"Sebagai platform penyedia multi-layanan terbesar di Indonesia, kami akan terus berupaya menyempurnakan sistem kami serta terus bekerjasama dengan pihak berwenang agar mitra kami dapat nyaman dalam bekerja dan pelanggan mendapatkan layanan terbaik," tekadnya.

Sejauh ini sistem Go-Jek sudah lebih baik dalam mengidentifikasi dan menangani ofik. Sebanyak 90 persen ofik sudah berhasil dihentikan sebelum sampai ke aplikasi mitra pengemudi Go-Jek.

Riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) 2018 tentang Order Fiktif (Fake Order) dipublikasikan pekan ini mengungkapkan pentingnya penanganan ofik. Landasan kajian itu dilakukan atas berbagai pertimbangan penting.

Pertama, pertumbuhan eknomi Indonesia 2014 – 2017 belum menembus 5,1 persen. Indonesia butuh penyerapan tenaga kerja dan Go-Jek membantu penyerapan sebanyak 850 ribu tenaga kerja pada 2017.

Arus investasi dan penyerapan tenaga kerja bisa terganggu atau berkurang jika order fiktif semakin marak. Survey dilakukan pada 16 April – 16 Mei 2018 di Jakarta, Bogor, Semarang, Bandung, Yogyakarta. Responden adalah para mitra pengemudi aplikator, total sebanyak 516 responden dan 99 persen pria.

(nas/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up