JawaPos Radar | Iklan Jitu

Menteri Rini Kesal Banyak yang ‘Nyinyir’ Soal Utang BUMN Rp 5.271 T

09 Desember 2018, 12:42:54 WIB
Menteri Rini Kesal Banyak yang ‘Nyinyir’ Soal Utang BUMN Rp 5.271 T
Menteri BUMN Rini Soemarno di Kantor Wika, Jakarta (Uji Sukma/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengaku kesal terkait utang Badan Usaha Milik Negara yang nilainya mencapai ribuan triliun. Utang BUMN menjadi sorotan dari waktu ke waktu, puncaknya adalah saat melangsungkan rapat dengan Komisi VI DPR beberapa pekan lalu.

Rini pun langsung menghentikan langkahnya ketika ditanya awak media soal kondisi keuangan perusahaan pelat merah saat menghadiri acara Pelepasan Duta Bangsa ke Proyek Aljazair, Taiwan dan Nigeria di Kantor WIKA, Jakarta, Minggu (9/12).

“Sebentar-sebentar saya sudah paling kesal nih kalau orang sudah permasalahkan mengenai utang BUMN. Selama itu produktif, selama utang kita tarik untuk membesarkan perusahaan, untuk pembangunan, kalkulasinya benar, return of investmentnya benar, enggak masalah soal utang,” kata Rini.

Dia mengatakan kalau BUMN tidak berutang, maka perusahaan tidak bisa mengembangkan usaha. Rini mengatakan terus terang ia mengaku prihatin mendengar kabar miring mengenai utang BUMN yang terjadi belakangan ini.

“Terus terang saya belakangan ini ngenes dengernya. BUMN banyak utang. Lhoh apa masalahnya kita punya utang? Selama kita melakukannya dengan baik berutang dengan benar,bertanggung jawab dan betul-betul digunakan untuk hal yang produktif itu yang saya jaga,” jelasnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Restrukturisasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Klik Ro menuturkan utang BUMN yang nilainya mencapai Rp 5.271 triliun pada kuartal III-2018 bukanlah utang riil. 

Dia menuturkan misalnya dari sektor keuangan tercatat jumlah liabilitas Rp 3.311 triliun, tetapi itu terdiri dari Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp 2.488 triliun, cadangan premi dan asuransi Rp 335 triliun serta utang lain-lain senilai Rp 529 triliun.

"Jadi DPK apakah utang secara akunting betul (memang utang) Tetapi itu simpanan dimana dari Rp 3.311 triliun tidak membayarkan kembali kecuali anda tarik bukan konsep lending borrowing antara debitur dan kreditur. Not really utang Rp 2.488 Triliun ditambah cadangan premi," jelas Aloy di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (4/12).

Selanjutnya, ia menerangkan utang dari 143 BUMN yang benar-benar utang berbunga adalah liabilitas senilai Rp 5.271 triliun dikurangi DPK Rp 2.488 triliun dikurangi cadangan Rp 220 triliun dikurangi utang usaha Rp 79 triliun. Hasilnya adalah Rp 2.524 triliun.

Editor           : Saugi Riyandi
Reporter      : (uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up