alexametrics

Tiket Pesawat Murah Membahayakan Keselamatan, Mitos atau Fakta?

8 November 2018, 09:32:33 WIB

JawaPos.com – Maraknya penerbangan bertarif murah atau Low Cost Carrier (LCC) terbukti mampu menggairahkan pasar transportasi udara. Berbagai macam cara dilakukan perusahaan maskapai penerbangan untuk menggaet konsumen mulai dari promo menarik hingga terbang ke tujuan yang masih belum banyak dibuka.

Tapi, apa benar semakin murah tiket pesawat maka semakin tinggi juga risiko keselamatan yang akan diterima oleh penumpang? Pengamat Penerbangan Gerry Soejatman menjelaskan ada beberapa hal, seperti karena harganya lebih murah, mengingat adanya fasilitas kenyamanan yang dihilangkan. Selain itu penghematan juga didapat dari kepemilikkan pesawat.

Maskapai yang membeli pesawat dalam jumlah besar terkadang mendapatkan diskon lebih dari 50 persen per pesawat. Selain itu, penawaran paket pemeliharaan pesawat dari pabrik. Hal ini dimungkinkan karena pabrik juga paham bahwa kunci dari kesuksesan penjualan adalah volume pesawat yang dibeli.

“Cara lain LCC mendapatkan keuntungan adalah dari penjualan makanan bukan per orang per pesawat, tapi dalam jangka waktu satu tahun, sehingga pemesanan ke katering akan menjadi lebih murah,” kata Gerry di Jakarta, Rabu (7/11).

Menurut Gerry, tidak ada maskapai LCC yang bertahan bila yang dilakukan adalah memangkas biaya-biaya yang terkait dengan keselamatan. Terkait dengan anggapan bahwa LCC suka mengalami delay, Gerry Soejatman menjelaskan sebenarnya delay merupakan hal yang merugikan bagi LCC, bahkan biaya 1 menit delay LCC dapat lebih besar dari yang bukan LCC.

“LCC untungnya saja sudah kecil bagaimana kalau dia delay? Kalau mereka membiarkan delay bandara keburu tutup. Rugi, murah itu bukan berarti mereka seenaknya, kalau ada maskapai yang gagal memenuhi itu bukan berarti LCC gagal,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Aviatory Indonesia, Ziva Narendra menjelaskan ideal profit margin dari maskapai penerbangan adalah 20 hingga 22 persen. Senada dengan Gerry, Ziva Narendra juga mengatakan diawal LCC terbentuk, maskapai yang mengurangi biaya terkait dengan keselamatan akhirnya tidak dapat bertahan.

Adapun LCC yang bertahan adalah yang mengadopsi utilisasi. Jika dulu di dunia penerbangan umumnya berpatokan pada supply and demand, maka LCC membuka dua patokkan lagi yaitu quantity demanded dan quality provided.

“Masih untung tetapi presdirnya sudah mulai berpikir apakah bisnis ini bisa lanjut atau tidak. Ketika sudah pada perimbangan itu, pengelola penerbangan akan memikirkan supaya profitnya bisa dinaikkan lagi keatas harus melakukan marketing, maka disitu lah aspek seperti safety mulai dikorbankan,” jelasnya.

Tetap Ada Demand Tiket Pesawat Murah

Kendati murahnya tiket pesawat kerap kali dikaitkan dengan keselamatan, namun segmen pasar yang menekan penerbangan murah itu tetap ada. Gerry mengatakan segmen pasar pesawat terbagi menjadi tiga. Pertama adalah orang-orang yang harus berangkat berapapun harga tiket pesawatnya. Mereka ini adalah orang yang naik pesawat untuk perjalanan bisnis.

Kedua adalah mereka yang bisa berangkat bisa juga tidak. Mereka adalah orang yang naik pesawat hanya untuk keperluan tertentu seperti berkunjung ke kampung halaman atau perjalanan pribadi lainnya. Ketiga, adalah orang-orang yang tidak akan naik pesawat jika harganya tidak cocok.

“Nah jadi tetap ada demand yang menekan harga untuk tetap turun,” pungkasnya.

Editor : Saugi Riyandi

Reporter : (uji/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Tiket Pesawat Murah Membahayakan Keselamatan, Mitos atau Fakta?