alexametrics

Tekan Complain Konsumen, Bibli.com Padukan Jualan Online dan Toko Fisik

8 Mei 2019, 09:11:39 WIB

JawaPos.com – Blibli.com pasang target pertumbuhan jumlah barang yang diorder hingga tiga kali lipat tahun ini dibanding tahun 2018. Berbagai strategi dilakukan untuk mencapai target itu. Salah satunya dengan menggenjot layanan online to offline (O2O).

Head of Public Relation Blibli.com Yolanda Nainggolan menjelaskan, O2O adalah sebuah layanan milik Blibli.com yang memadukan antara jaringan online dan toko fisik (offline). “Program O2O kami ada dua. Yaitu Blibli InStore dan Click&Collect,” terangnya di Surabaya Selasa malam (7/5).

Adapun yang dimaksud Blibli InStore adalah sebuah layanan dimana pelanggan dapat berbelanja melalui fasilitas point of sales (POS) milik Blibli.com di berbagai toko fisik. “Contohnya, konsumen datang ke toko kamera yang sudah kerjasama dengan kami. Dia bisa lihat langsung spesifikasi kameranya seperti apa, lalu kalau sudah deal, orang tersebut tinggal melakukan pembelian lewat alat Blibli.com yaitu POS di toko tersebut,” terangnya. Sebab, Blibli.com menyediakan berbagai macam potongan harga khusus untuk konsumen yang membeli lewat POS.

Sedangkan untuk Click&Collect, pelanggan bisa melakukan transaksi melalui situs Blibli.com terlebih dahulu. Kemudian setelah deal baru mengambil barang yang dibelinya langsung di toko merchant yang telah terdaftar. “Intinya kedua layanan tersebut bertujuan untuk meminimalisir kekecewaan orang terhadap produk yang dibelinya. Karena barangnya bisa dilihat dulu, tidak asal tiba – tiba datang ke rumah,” papar Yolanda.

Hingga saat ini jumlah merchant yang telah bekerjasama dengan Blibli.com untuk layanan O2O telah mencapai 13 ribu toko secara nasional. Hingga Desember 2019, pihaknya menargetkan bisa menambah jumlah toko menjadi 20 ribu. “Di dalam ribuan toko tersebut, kami membaginya menjadi 16 produk kategori,” ujarnya. Antara lain ada elektronik, gadget, kamera, fashion, hingga groceries.

Tetapi, Yolanda mengakui, kategori toko yang paling banyak digunakan konsumen adalah gadget dan kamera. Karena tipikal masyarakat Indonesia jika beli barang yang relatif mahal harus melihat dulu barangnya supaya lega. “Selain itu juga mereka memanfaatkan pembelian Blibli in store agar bisa dapat cicilan dan promo menarik,” tegasnya.

Di sisi lain, Yolanda juga yakin saat bulan ramadan dan lebaran ini akan meningkatkan penjualan Blibli in store. Terutama di produk elektronik dan fashion. Ia memprediksi, lonjakan belanja konsumen di Blibli akan terjadi pada dua minggu sebelum lebaran. Setelah masyarakat menerima THR. “Demi lebih meramaikan momen Ramadan, kami juga menghadirkan berbagai produk fashion hasil kerjasama dengan beberapa desainer ternama Indonesia,” imbuh Yolanda.

Sementara itu di sisi lain, Tokopedia juga secara resmi telah mengumumkan dibukanya program belanja terbesar di tahun 2019 yang bertajuk Ramadan Ekstra. Melanjutkan kesuksesan tahun lalu, Ramadan Ekstra tahun ini akan menghadirkan tradisi belanja dengan jangkauan terluas, jaringan penjual terbesar, dan pengguna terbanyak.

VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak mengatakan, animo masyarakat yang sangat besar di ajang Ramadan Ekstra tahun lalu, memacu pihaknya untuk terus memberikan kemudahan kepada seluruh masyarakat. Khususnya pengguna Tokopedia dalam mempersiapkan dan berbelanja kebutuhan Ramadan. “Di Ramadan Ekstra tahun lalu, kami mencatat nilai penjualan yang luar biasa. Selama bulan Mei 2018, Tokopedia dikunjungi oleh 73 juta masyarakat Indonesia, dimana jumlah ini setara dengan 13 kali jumlah penduduk negara Singapura,” paparnya.

Kemudian transaksi yang terjadi pada satu hari saat puncak Ramadan Ekstra di 25 Mei 2018 setara dengan jumlah transaksi Tokopedia selama lima tahun pertamanya. Tercatat pula produk terlaris selama periode Ramadan Ekstra tahun lalu adalah baju koko, baju gamis, dan kurma. “Kami yakin tahun ini akan menghasilkan transaksi lebih besar lagi karena kami menghadirkan sederet nilai tambah pengguna. Seperti gratis ongkir, kupon THR, sampai umroh gratis,” imbuhnya.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Charina Marietasari



Close Ads